Mendaki dengan suci (Jawaban)

Oleh : Jarody Hestu
website : http://jarody.multiply.com
Ekspedisi 10 Hari Mencapai Puncak Sejati Raung
Tulisan kelima ini adalah tulisan terakhir yang merupakan jawaban atas segala kritik di milis atas pencapaian puncak Sejati Raung via Glenmore, Juli tahun kemarin. Terima kasih sebelumnya atas segala ucapan selamat untuk tim ini yang disampaikan lewat e-mail pribadi, milis-milis outdoor maupun blog atau ucapan langsung saat diberi kesempatan tuk bersua. Dan bahwa timbul beberapa kritik atas pencapaian ini, kami pun sadar bahwa sebuah perjalanan tak hanya akan menampilkan sisi kebaikan saja. Ada sisi-sisi yang berupa kesalahan, yang tidak perlu untuk ditiru ketika ada saat untuk mengulangi.

Ada beberapa buah kritik dari pembaca di milis Pendaki, sebuah surprise di antara reply yang bersifat ucapan selamat atas pencapaian kami. Akan kukerucutkan inti dari kritik-kritik tersebut sebagai berikut,
-Mengapa kami harus membuka jalur untuk mencapai sebuah target pendakian?
-Mengapa kami harus mempublish segala hasil dokumentasi kami?
Secara kasat mata, kalimat ini adalah kalimat tanya yang bersifat kritik lingkungan, namun secara penjiwaan ada pemaknaan yang terkandung dalam pertanyaan tersebut. Aku memang bukan orang psikologis, namun aku ingin menelusuri induk dari kalimat tersebut. Dan tentu saja induk dari kalimat tersebut adalah bukan sesuatu yang berasal dari hubungan sebab akibat. Induk dari kalimat tersebut adalah sesuatu yang bersifat konseptual, dalam hal ini sebuah perjalanan. Itulah mengapa aku meminjam istilah ini "mendaki dengan suci" sebagai latar belakang jawaban atas kritik-kritik tersebut.

Secara kebetulan dalam beberapa bulan lalu aku membaca sebuah novel dari Ayu Utami "Bilangan Fu".
"Neng, maaf ya..telah meminjam beberapa buah istilah untuk tulisan ini tanpa ijin terlebih dahulu."
Ada beberapa buah istilah yang kupinjam, salah satunya adalah "sacred climbing". Karena ternyata istilah ini sangat berhubungan atas pertanyaan-pertanyaan tadi. Dan secara pemahaman dapat menjadi persuasif, itu terjadi saat aku membaca novel itu.

Mendaki dengan suci, bagi orang awam itu berarti sebuah pendakian bersih di mana kita benar-benar santun terhadap lingkungan di mana jejak kita melangkah. Aku kemukakan sebuah misal kalimat persuasif atas pemikiran tersebut.
"Jika kau naik dengan 5 kresek logistik di carriermu, maka pulanglah dengan 5 kresek sampah di carriermu."
Setidaknya kalimat tersebut dapat diuraikan secara universal menjadi kode etik-kode etik yang berlaku bagi mereka yang berjalan di alam; take nothing but picture, kill nothing but time, leave nothing but footprint. Dan hampir setiap orang sudah mengetahuinya, namun hanya mengetahui tidaklah cukup sayangku.

Dan mengapa 3 kalimat tersebut hanya menjadi penghias di setiap basecamp yang merupakan pintu masuk pendakian gunung-gunung di Indonesia???

Dan ini menurut pemikiranku, mendaki dengan suci tak cukup hanya dengan pemikiran awam atas kode etik perjalanan. Kode etik tersebut merupakan turunan dari seorang induk yang hakiki. Dan apakah yang hakiki itu? Yang hakiki adalah hubungan antara manusia, alam dan TuhanNya. Ini adalah sebuah konsep yang dipertahankan oleh masyarakat tradisi.

Lalu bagaimana sebuah sikap seperti ini bisa masuk di dalam jiwa seorang pejalan kaki? Ada 2 proses penurunan sikap,

-Learning, ingat..dosa terbesar seorang yang berilmu adalah tidak menurunkan ilmunya kepada orang lain. Di sini ada seseorang yang menjadi guru dan seseorang yang menjadi murid. Memang seorang guru hanya memberi pelajaran dan belum tentu bisa mengubah moral seorang pejalan kaki, seperti halnya kita tak dapat memaksakan sebuah kepercayaan terhadap orang lain. Learning di sini lebih bersifat kesadaran.

-Doing, pengalaman untuk santun terhadap alam terjadi sesuai dengan tahapan, melihat-suka-melihat lagi-butuh-mempersembahkan. Apa artinya?
1. Melihat, rasa penasaran akan sesuatu di atas awan, mungkin inilah sebagian kecil alasan seseorang untuk mendaki gunung pertama kali.
2. Suka, tiba-tiba dia suka akan keindahan di atas awan. Bahagia ketika melihat sunrise dan mekarnya puspa edelweisz. Mungkin dia memetik puspa itu, karena dia berharap selalu melihat harumnya hawa dingin di perkotaan.
3. Melihat lagi, dan dia mulai ketagihan untuk mendaki gunung. Mulai bosan akan keramaian gemintang lampu perkotaan. Dia inginkan sebuah ketenangan.
4. Butuh, dia mulai menganggap bahwa berjalan di alam adalah sebuah kebutuhan layaknya makan dan minum. Di sini alasan seseorang untuk mendaki bersifat relatif.
5. Mempersembahkan, ini adalah tahap ketika dia menginginkan sebuah regenerasi untuk alam. Ketika dia berharap bahwa anak cucunya akan melihat alam tetap lestari seperti yang dia lihat saat ini.

Ada sebuah kasus mengenai aturan-hukuman di beberapa basecamp pendakian gunung. Aku hanya tertawa sinis saat benar-benar melihat sendiri bahwa materi (baca : uang) telah menguasai segalanya.
-Ada seorang pendaki yang mendaki sebuah gunung untuk 2 malam pendakian, ternyata dia turun lebih dari jumlah hari dalam perijinannya. Lalu apa hukumannya? Ya benar, uang telah mengalahkan segalanya!!
Apakah itu sebuah proses penurunan sikap yang terpuji?? Sebenarnya ada sebuah pola hukuman yang lebih edukatif untuk itu, misal : bukankah mengumpulkan sampah adalah sebuah hal yang edukatif.

Mendaki dengan suci, sebuah pola hubungan antara manusia-alam-Tuhan. Darimana air itu datang? Dari hutan-hutan di pegunungan mewujud sungai-sungai yang jernih. Darimana pohon itu tumbuh? Dari bibit-bibit yang bersemai oleh tangan-tangan suci manusia. Lalu ada kepercayaan-kepercayaan yang memuja alam oleh manusia tradisi, dari situ lahir agama yang menunjukkan keEsaan Tuhan. Tuhan hadir sebagai penyeimbang atas hubungan manusia dengan alam.

Glenmore,

Kembali lagi kepada kritik-kritik atas perjalanan kami. Perjalanan ini adalah perjalanan membuka kembali jalur yang pernah dibuka di tahun 2003. Dengan target utama puncak Sejati Raung, yang takkan dapat dicapai bila pendaki menggunakan jalur pendakian normal dari sisi utara, satu-satunya jalur pendakian di gunung Raung. Ada beberapa buah fakta yang perlu kusampaikan di sini,
-Benar adanya bahwa kami mendaki dengan cara membuka hutan rapat, dan itu berarti ada perdu-perdu yang kami tebas, pohon-pohon kecil yang kami lukai, dan itu berarti kami telah membunuh sesuatu yang hidup. Demi sebuah jalan yang dapat dilewati oleh kaki. Bukan begitu sayangku?
-Benar adanya bahwa ada 2 lobang di tebing yang kami tembus dengan pasak artificial. Mungkin tebing itu bukanlah sesuatu yang hidup. Namun tebing lahir melalui sebuah proses alam (vulkanis) selama ribuan tahun. Bukankah itu juga berarti melukai?

Dan itu berarti kami belum mampu menjadi sebuah tim yang berjalan dengan suci, seperti yang diutarakan neng Ayu dalam novelnya.

Namun sayangku, seorang pionir ataupun penemu selalu mengalami hal demikian. Dan harus berperan sebagai tumbal kesalahan bagi orang lain. Heinrich Harrer pun mungkin akan bersedih dalam kuburnya saat melihat apa yang dilakukan orang-orang terhadap titik penemuannya, Jayawijaya. Dan berkata dalam lelap panjangnya,
"Andaikan dulu aku tidak menemukan tanah ini, mungkin sejahtera dan damai tetap ada di Papua, sayang telah kudaki Carstensz, dan pencari emas itupun ikut mendaki setelah itu."

Begitulah, konsep suci tak akan dicapai oleh pembuka jalur. Namun konsep suci seyogyanya diikuti oleh orang-orang setelah itu. Kami hanya memberi sebuah wacana tentang puncak Sejati, silahkan pendaki-pendaki lain mengikuti dengan sifat terpuji. Saat telah ada jalan setapak sampai batas vegetasi gunung Raung, saat itulah pendaki dapat mendaki gunung dengan suci. Pendaki tak perlu membunuh pohon untuk sampai ke atas.

Penggambaran seperti ini tercipta karena kami sangat menikmati poin ke 4 dari "doing" yaitu "butuh". Ketika mendaki gunung sudah menjadi sebuah kebutuhan bagi kami, dan kami ingin mencari sesuatu "yang lain" dalam perjalanan kami. Istilah sederhananya, kami ingin benar-benar bercengkerama dengan alam, berjalan di dalam kanopi hijau rapatnya. Glenmore adalah salah satu "yang lain" yang ingin kami lakukan. Untuk apa sesuatu yang lain itu? Ada sebuah sisi psikologis yang timbul dari sebuah perjalanan, aku mengistilahkannya dengan "kembali ke rumah dengan jiwa". Dan kami ingin Glenmore menjadi jiwa tersebut. Secara definisi dapat berarti sebuah semangat baru untuk menjalani hidup.

Lalu kenapa harus ada publishing yang luas atas pencapaian ini?

Pencapaian awal selalu mendorong pencapaian berikutnya. Dimulai dari wacana puncak Sejati tahun 2002 lewat kecamatan Kalibaru, sesuai dengan fakta bahwa inilah titik tertinggi dari kaldera raksasa gunung Raung, kaldera terbesar kedua di Indonesia. Dan hingga sekarang Kalibaru telah menghadirkan puluhan summiter mencapai puncak Sejatinya, sehingga telah dibangun pos-pos pendakian di jalurnya.

Lalu sebuah wacana untuk melaluinya dari kecamatan Glenmore di tahun 2003, dengan jalur panjangnya hanya beberapa tim yang mencoba melakukannya. Hingga perjalanan kami Juli 2008 kemarin belum genap 10 orang summiter yang mencapai puncak Sejatinya. Dan setelah ini mungkin akan semakin banyak pendaki yang mencoba jalur ini, terutama dengan berkembangnya informasi lewat internet yang membuat dunia seakan sempit ini.

Ada publikasi dengan detil lengkap perjalanan, kenapa? Keselamatan pendaki adalah nomor satu, jalur selatan gunung Raung adalah jalur yang tak direkomendasikan bagi mereka yang belum memiliki kesiapan. Informasi adalah sesuatu yang berharga bagi mereka yang mencapai puncak Sejati dari sisi Glenmore. Baik itu plotingan jalur, karakteristik hutan dan tebing, perkiraan logistik dan lain sebagainya. Ini demi keselamatan pendaki, mungkin setelah ada jalur setapak menuju batas vegetasi, sebuah tim pendaki sudah tak memerlukan GPS untuk penunjuk arah. Namun itu setelah hutan Glenmore dilalui oleh banyak tim, sehingga jalur menjadi jelas. Dan selama itu mereka membutuhkan plot jalur untuk menembus hutannya. Dan Glenmore akan menjadi seperti Kalibaru dengan pos-pos pendakiannya.

Benar, hanya ada 2 jalur itu sebagai hal yang realistis untuk mencapai puncak Sejati sesuai dengan pengamatan kontur gunung di peta Bakorsutanal. Dan kami mendukung bahwa jalur resmi gunung Raung hanya ada 3 buah, Sumberwringin, Kalibaru dan Glenmore.

Lalu bagaimana jika ada tim lain yang mendaki Raung dari sisi yang lain lagi?
Ck ck ck. Mungkin kita kembali dapat relaksasi dengan kalimat berikut,
"Aaargh, mungkin akan lebih baik bila bahtera dan kapal tak pernah ditemukan sehingga benua-benua baru tak pernah ditemukan dan perang tak pernah ada di bumi."
Dapat lagi disimilarkan,
"Aaargh, mungkin akan lebih baik jika Copernicus tak pernah berkata bahwa "Bumi itu bulat."

Dan itu berarti petualangan tak pernah ada

Oke, begitulah sekedar tulisan sederhana ini yang kukemukakan sebagai jawaban atas beberapa kritik di milis. Memang benar kami belum dapat melakukan perjalanan ini dengan sempurna, karena sebatang pohon yang kami tebang itu mungkin telah menangis dalam peraduannya. Kami hanya mengajak teman-teman untuk tetap berjalan dan "kembali ke rumah dengan jiwa".

Terima kasih atas kerelaannya mengklik subject ini di sela-sela kesibukan Anda.

Tetap semangattttt!!!

TAMAT

_jarody hestu_<
sumber : http://jarody.multiply.com

4 komentar:

  1. Yehaaaa, saya juga suka baca karyanya ayu utami nih, ssalam perkenalan dari saya ya :)

    BalasHapus
  2. Salam Lestari!!!
    Salam persahabatan dipersilahkan untuk masuk ke blog saya di http://lavandula-angusttifolia.blogspot.com/ :)

    BalasHapus