Mendaki dengan suci (Jawaban)

Oleh : Jarody Hestu
website : http://jarody.multiply.com
Ekspedisi 10 Hari Mencapai Puncak Sejati Raung
Tulisan kelima ini adalah tulisan terakhir yang merupakan jawaban atas segala kritik di milis atas pencapaian puncak Sejati Raung via Glenmore, Juli tahun kemarin. Terima kasih sebelumnya atas segala ucapan selamat untuk tim ini yang disampaikan lewat e-mail pribadi, milis-milis outdoor maupun blog atau ucapan langsung saat diberi kesempatan tuk bersua. Dan bahwa timbul beberapa kritik atas pencapaian ini, kami pun sadar bahwa sebuah perjalanan tak hanya akan menampilkan sisi kebaikan saja. Ada sisi-sisi yang berupa kesalahan, yang tidak perlu untuk ditiru ketika ada saat untuk mengulangi.

Ada beberapa buah kritik dari pembaca di milis Pendaki, sebuah surprise di antara reply yang bersifat ucapan selamat atas pencapaian kami. Akan kukerucutkan inti dari kritik-kritik tersebut sebagai berikut,
-Mengapa kami harus membuka jalur untuk mencapai sebuah target pendakian?
-Mengapa kami harus mempublish segala hasil dokumentasi kami?
Secara kasat mata, kalimat ini adalah kalimat tanya yang bersifat kritik lingkungan, namun secara penjiwaan ada pemaknaan yang terkandung dalam pertanyaan tersebut. Aku memang bukan orang psikologis, namun aku ingin menelusuri induk dari kalimat tersebut. Dan tentu saja induk dari kalimat tersebut adalah bukan sesuatu yang berasal dari hubungan sebab akibat. Induk dari kalimat tersebut adalah sesuatu yang bersifat konseptual, dalam hal ini sebuah perjalanan. Itulah mengapa aku meminjam istilah ini "mendaki dengan suci" sebagai latar belakang jawaban atas kritik-kritik tersebut.

Secara kebetulan dalam beberapa bulan lalu aku membaca sebuah novel dari Ayu Utami "Bilangan Fu".
"Neng, maaf ya..telah meminjam beberapa buah istilah untuk tulisan ini tanpa ijin terlebih dahulu."
Ada beberapa buah istilah yang kupinjam, salah satunya adalah "sacred climbing". Karena ternyata istilah ini sangat berhubungan atas pertanyaan-pertanyaan tadi. Dan secara pemahaman dapat menjadi persuasif, itu terjadi saat aku membaca novel itu.

Mendaki dengan suci, bagi orang awam itu berarti sebuah pendakian bersih di mana kita benar-benar santun terhadap lingkungan di mana jejak kita melangkah. Aku kemukakan sebuah misal kalimat persuasif atas pemikiran tersebut.
"Jika kau naik dengan 5 kresek logistik di carriermu, maka pulanglah dengan 5 kresek sampah di carriermu."
Setidaknya kalimat tersebut dapat diuraikan secara universal menjadi kode etik-kode etik yang berlaku bagi mereka yang berjalan di alam; take nothing but picture, kill nothing but time, leave nothing but footprint. Dan hampir setiap orang sudah mengetahuinya, namun hanya mengetahui tidaklah cukup sayangku.

Dan mengapa 3 kalimat tersebut hanya menjadi penghias di setiap basecamp yang merupakan pintu masuk pendakian gunung-gunung di Indonesia???

Dan ini menurut pemikiranku, mendaki dengan suci tak cukup hanya dengan pemikiran awam atas kode etik perjalanan. Kode etik tersebut merupakan turunan dari seorang induk yang hakiki. Dan apakah yang hakiki itu? Yang hakiki adalah hubungan antara manusia, alam dan TuhanNya. Ini adalah sebuah konsep yang dipertahankan oleh masyarakat tradisi.

Lalu bagaimana sebuah sikap seperti ini bisa masuk di dalam jiwa seorang pejalan kaki? Ada 2 proses penurunan sikap,

-Learning, ingat..dosa terbesar seorang yang berilmu adalah tidak menurunkan ilmunya kepada orang lain. Di sini ada seseorang yang menjadi guru dan seseorang yang menjadi murid. Memang seorang guru hanya memberi pelajaran dan belum tentu bisa mengubah moral seorang pejalan kaki, seperti halnya kita tak dapat memaksakan sebuah kepercayaan terhadap orang lain. Learning di sini lebih bersifat kesadaran.

-Doing, pengalaman untuk santun terhadap alam terjadi sesuai dengan tahapan, melihat-suka-melihat lagi-butuh-mempersembahkan. Apa artinya?
1. Melihat, rasa penasaran akan sesuatu di atas awan, mungkin inilah sebagian kecil alasan seseorang untuk mendaki gunung pertama kali.
2. Suka, tiba-tiba dia suka akan keindahan di atas awan. Bahagia ketika melihat sunrise dan mekarnya puspa edelweisz. Mungkin dia memetik puspa itu, karena dia berharap selalu melihat harumnya hawa dingin di perkotaan.
3. Melihat lagi, dan dia mulai ketagihan untuk mendaki gunung. Mulai bosan akan keramaian gemintang lampu perkotaan. Dia inginkan sebuah ketenangan.
4. Butuh, dia mulai menganggap bahwa berjalan di alam adalah sebuah kebutuhan layaknya makan dan minum. Di sini alasan seseorang untuk mendaki bersifat relatif.
5. Mempersembahkan, ini adalah tahap ketika dia menginginkan sebuah regenerasi untuk alam. Ketika dia berharap bahwa anak cucunya akan melihat alam tetap lestari seperti yang dia lihat saat ini.

Ada sebuah kasus mengenai aturan-hukuman di beberapa basecamp pendakian gunung. Aku hanya tertawa sinis saat benar-benar melihat sendiri bahwa materi (baca : uang) telah menguasai segalanya.
-Ada seorang pendaki yang mendaki sebuah gunung untuk 2 malam pendakian, ternyata dia turun lebih dari jumlah hari dalam perijinannya. Lalu apa hukumannya? Ya benar, uang telah mengalahkan segalanya!!
Apakah itu sebuah proses penurunan sikap yang terpuji?? Sebenarnya ada sebuah pola hukuman yang lebih edukatif untuk itu, misal : bukankah mengumpulkan sampah adalah sebuah hal yang edukatif.

Mendaki dengan suci, sebuah pola hubungan antara manusia-alam-Tuhan. Darimana air itu datang? Dari hutan-hutan di pegunungan mewujud sungai-sungai yang jernih. Darimana pohon itu tumbuh? Dari bibit-bibit yang bersemai oleh tangan-tangan suci manusia. Lalu ada kepercayaan-kepercayaan yang memuja alam oleh manusia tradisi, dari situ lahir agama yang menunjukkan keEsaan Tuhan. Tuhan hadir sebagai penyeimbang atas hubungan manusia dengan alam.

Glenmore,

Kembali lagi kepada kritik-kritik atas perjalanan kami. Perjalanan ini adalah perjalanan membuka kembali jalur yang pernah dibuka di tahun 2003. Dengan target utama puncak Sejati Raung, yang takkan dapat dicapai bila pendaki menggunakan jalur pendakian normal dari sisi utara, satu-satunya jalur pendakian di gunung Raung. Ada beberapa buah fakta yang perlu kusampaikan di sini,
-Benar adanya bahwa kami mendaki dengan cara membuka hutan rapat, dan itu berarti ada perdu-perdu yang kami tebas, pohon-pohon kecil yang kami lukai, dan itu berarti kami telah membunuh sesuatu yang hidup. Demi sebuah jalan yang dapat dilewati oleh kaki. Bukan begitu sayangku?
-Benar adanya bahwa ada 2 lobang di tebing yang kami tembus dengan pasak artificial. Mungkin tebing itu bukanlah sesuatu yang hidup. Namun tebing lahir melalui sebuah proses alam (vulkanis) selama ribuan tahun. Bukankah itu juga berarti melukai?

Dan itu berarti kami belum mampu menjadi sebuah tim yang berjalan dengan suci, seperti yang diutarakan neng Ayu dalam novelnya.

Namun sayangku, seorang pionir ataupun penemu selalu mengalami hal demikian. Dan harus berperan sebagai tumbal kesalahan bagi orang lain. Heinrich Harrer pun mungkin akan bersedih dalam kuburnya saat melihat apa yang dilakukan orang-orang terhadap titik penemuannya, Jayawijaya. Dan berkata dalam lelap panjangnya,
"Andaikan dulu aku tidak menemukan tanah ini, mungkin sejahtera dan damai tetap ada di Papua, sayang telah kudaki Carstensz, dan pencari emas itupun ikut mendaki setelah itu."

Begitulah, konsep suci tak akan dicapai oleh pembuka jalur. Namun konsep suci seyogyanya diikuti oleh orang-orang setelah itu. Kami hanya memberi sebuah wacana tentang puncak Sejati, silahkan pendaki-pendaki lain mengikuti dengan sifat terpuji. Saat telah ada jalan setapak sampai batas vegetasi gunung Raung, saat itulah pendaki dapat mendaki gunung dengan suci. Pendaki tak perlu membunuh pohon untuk sampai ke atas.

Penggambaran seperti ini tercipta karena kami sangat menikmati poin ke 4 dari "doing" yaitu "butuh". Ketika mendaki gunung sudah menjadi sebuah kebutuhan bagi kami, dan kami ingin mencari sesuatu "yang lain" dalam perjalanan kami. Istilah sederhananya, kami ingin benar-benar bercengkerama dengan alam, berjalan di dalam kanopi hijau rapatnya. Glenmore adalah salah satu "yang lain" yang ingin kami lakukan. Untuk apa sesuatu yang lain itu? Ada sebuah sisi psikologis yang timbul dari sebuah perjalanan, aku mengistilahkannya dengan "kembali ke rumah dengan jiwa". Dan kami ingin Glenmore menjadi jiwa tersebut. Secara definisi dapat berarti sebuah semangat baru untuk menjalani hidup.

Lalu kenapa harus ada publishing yang luas atas pencapaian ini?

Pencapaian awal selalu mendorong pencapaian berikutnya. Dimulai dari wacana puncak Sejati tahun 2002 lewat kecamatan Kalibaru, sesuai dengan fakta bahwa inilah titik tertinggi dari kaldera raksasa gunung Raung, kaldera terbesar kedua di Indonesia. Dan hingga sekarang Kalibaru telah menghadirkan puluhan summiter mencapai puncak Sejatinya, sehingga telah dibangun pos-pos pendakian di jalurnya.

Lalu sebuah wacana untuk melaluinya dari kecamatan Glenmore di tahun 2003, dengan jalur panjangnya hanya beberapa tim yang mencoba melakukannya. Hingga perjalanan kami Juli 2008 kemarin belum genap 10 orang summiter yang mencapai puncak Sejatinya. Dan setelah ini mungkin akan semakin banyak pendaki yang mencoba jalur ini, terutama dengan berkembangnya informasi lewat internet yang membuat dunia seakan sempit ini.

Ada publikasi dengan detil lengkap perjalanan, kenapa? Keselamatan pendaki adalah nomor satu, jalur selatan gunung Raung adalah jalur yang tak direkomendasikan bagi mereka yang belum memiliki kesiapan. Informasi adalah sesuatu yang berharga bagi mereka yang mencapai puncak Sejati dari sisi Glenmore. Baik itu plotingan jalur, karakteristik hutan dan tebing, perkiraan logistik dan lain sebagainya. Ini demi keselamatan pendaki, mungkin setelah ada jalur setapak menuju batas vegetasi, sebuah tim pendaki sudah tak memerlukan GPS untuk penunjuk arah. Namun itu setelah hutan Glenmore dilalui oleh banyak tim, sehingga jalur menjadi jelas. Dan selama itu mereka membutuhkan plot jalur untuk menembus hutannya. Dan Glenmore akan menjadi seperti Kalibaru dengan pos-pos pendakiannya.

Benar, hanya ada 2 jalur itu sebagai hal yang realistis untuk mencapai puncak Sejati sesuai dengan pengamatan kontur gunung di peta Bakorsutanal. Dan kami mendukung bahwa jalur resmi gunung Raung hanya ada 3 buah, Sumberwringin, Kalibaru dan Glenmore.

Lalu bagaimana jika ada tim lain yang mendaki Raung dari sisi yang lain lagi?
Ck ck ck. Mungkin kita kembali dapat relaksasi dengan kalimat berikut,
"Aaargh, mungkin akan lebih baik bila bahtera dan kapal tak pernah ditemukan sehingga benua-benua baru tak pernah ditemukan dan perang tak pernah ada di bumi."
Dapat lagi disimilarkan,
"Aaargh, mungkin akan lebih baik jika Copernicus tak pernah berkata bahwa "Bumi itu bulat."

Dan itu berarti petualangan tak pernah ada

Oke, begitulah sekedar tulisan sederhana ini yang kukemukakan sebagai jawaban atas beberapa kritik di milis. Memang benar kami belum dapat melakukan perjalanan ini dengan sempurna, karena sebatang pohon yang kami tebang itu mungkin telah menangis dalam peraduannya. Kami hanya mengajak teman-teman untuk tetap berjalan dan "kembali ke rumah dengan jiwa".

Terima kasih atas kerelaannya mengklik subject ini di sela-sela kesibukan Anda.

Tetap semangattttt!!!

TAMAT

_jarody hestu_<
sumber : http://jarody.multiply.com

Joy of Mount Raung

Oleh : Taufan

Puncak Sejati - kami pernah singgah di sini ...
Minggu sore 21 Des 2008, setelah menempuh perjalanan darat kurang lebih 20 jam dari Jakarta, akhirnya kami tiba di Stasiun Kalibaru, Banyuwangi. Saat menurunkan 5 ransel besar dari rangkaian gerbong kereta Mutiara Timur, seorang pria bertubuh gelap dengan pedenya menghampiri kami dan bertanya, "Ini tim dari Jakarta yang mau ke Gunung Raung ya?". Serempak kami menjawab, "Iya benar".Lantas dia memperkenalkan dirinya. Ternyata ia porter yang akan membantu perjalanan kami dalam beberapa hari ke depan nanti. Pak Musni namanya, petani kopi yang kadang menggunakan waktu luangnya untuk mengantar tamu menyusuri lereng Selatan Gunung Raung. Ya Gunung Raung, Puncak Sejati, itu tujuan tim kami kali ini.

Untuk bisa singgah hingga Puncak Sejati, ada dua pilihan jalur yang bisa dilalui, jalur Kalibaru yang dirintis oleh tim Pataga Surabaya dan jalur Glenmore yang sempat dibuka oleh beberapa tim, salah satunya oleh Mapala UI. Tim kami memilih lintasan Kalibaru dengan entry point desa Wonorejo, dengan pertimbangan jalur ini 'lebih ramah' di tengah cuaca bulan Desember yang diperkirakan akan diwarnai badai dan tarian hujan.

Keinginan untuk bisa singgah ke Puncak sejati Gunung Raung, sebenarnya sudah tercetus sejak beberapa tahun lalu. Sebelum ini, sudah ada 3 kali rencana ke sana, baik lewat rintisan jalur Kalibaru maupun Glenmore, namun semuanya tidak ada yang terlaksana. Alasannya cuti yang gak di-approve, perhitungan budget yang membengkak dan alasan teknikal tim lainnya. Nyaris saja rencana ini dipeti-eskan, sampai akhirnya ada informasi kalau tim Satu Bumi sukses mencapai Puncak Sejati. Kabar ini cukup menggugah kami untuk mengutak-atik kembali rencana perjalanan yang pernah disusun.

Beberapa catatan perjalanan yang dibuat oleh tim-tim terdahulu kami buka kembali, termasuk juga dokumntasi video yang ada. Jujur..., berkali-kali kami harus menahan nafas saat menyaksikan tayangan video dan membaca catatan mereka, terutama pada etape terakhir menuju Puncak Sejati, membayangkan igir-igir tipis, kabut, hujan, jurang, dan kawah yang ratusan meter dalamnya.

Jika melihat pada peta topografi, lintasan jalur Kalibaru memang cukup panjang dan didominasi oleh banyak tanjakan. Ditambah lagi tidak ditemukanya sumber air di sepanjang jalur. Kondisi tersebut benar-benar membuat kami berempat harus memutar otak, untuk menyiasati semua hambatan yang bakal kami temui di depan. Berangkat dari beberapa catatan perjalanan, dokumentasi video dan perkiraan jalur pada peta, kami melakukan analisa dan menyusun strategi yang tepat dan sesuai dengan kekuatan dan kelemahan tim kami.

Mengacu pada catatan pendakian yang ditulis dalam dua tahun terakhir, jalur Kalibaru rata-rata ditempuh dalam waktu 7 harian untuk naik dan turun. Salah satu challenge terbesar pada lintasan ini disamping beratnya medan dan rangkaian tanjakan yang super lebay, adalah manajemen logistik dan air. Peralatan pendakian bisa diupayakan yang se-ultra light mungkin, namun tidak untuk air dan logistik. Pilihan makanan berenergi tinggi, seperti snack bar, coklat, sereal, oatmeal, masuk dalam list utama daftar belanjaan kami karena kemasannya yang ringkas tapi berkalori tinggi. Namun setelah dirundingkan dengan keseluruhan anggota tim, ternyata memang ada beberapa warna pada cita rasa, lidah, dan selera dari kami berempat. Opsi untuk menyantap makanan berkalori tinggi sepanjang perjalanan gugur. Dengan kata lain, kebutuhan karbohidrat dari beras harus tetap dikondisikan sepanjang perjalanan naik turun. Nasi berarti harus digenapkan dengan menu lain agar rasanya lebih sempurna di mulut dan perut kami.

Berangkat dengan menu konservatif plus air yang bakal kami bawa untuk 6 hari pendakian, kami melakukan perhitungan beban. Dan ternyata beban yang bakal kami angkat dengan ransel, bakal menyimpang jauh dari batas ideal 1/3 berat badan kami masing-masing. Suatu hal yang kami benar-benar peduli adalah dampak jangka panjang jika memaksakan diri membawa beban dengan berat yang jauh dari batas ideal. Toh kami masih berencana untuk singgah di banyak puncak yang lain dan bercita-cita luhur untuk tetap berjalan tegap di hari tua nanti. Tim akhirnya memutuskan untuk menggunakan jasa porter.

Lintasan pendakian jalur Kalibaru dimulai dari pondok Pak Sunarya, yang letaknya dekat dengan batas hutan. Ada sumber air dekat dengan pondok ini, kami menambah lagi persediaan air di sini, sehinggal total air yang kami bawa menjadi 58 liter, untuk 6 hari perjalanan, buat 5 orang anggota tim

Senin pagi-pagi sekali, kami sudah melakukan stretching di depan pondok yang tidak berpenghuni itu sebelum mulai melintas, menelusuri kebun kopi, semak belukar dan masuk ke dalam rimba Gunung Raung. Dua jam kemudian saat kami tiba di Pos1, di luar dugaan kami bertemu dengan tim lain yang juga berasal dari Jakarta, timnya bang Nikk. Ada wajah-wajah dan senyum yang familiar buat kami berempat. Dari obrolan singkat, ternyata mereka berangkat sehari sebelumnya dari entry point yang sama. Sementara mereka masih menyelesaikan packing, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Hari pertama pendakian, kami bisa mencapai pos Cemara, sesuai dengan target saat menyusun itinerary di Jakarta. Lintasan hingga Pos Cemara sudah terbuka lebar, tramontina yang kami bawa hingga sore itu masih tersimpan rapi dalam bungkusnya. Namun sepanjang jalur itu kami dihadang rombongan pacet, agas, dan duri rotan yang tajam. Tidak ada yg terbebas dari emutan pacet dan gigitan agas hutan itu. Bekas gigitannya menyisakan rasa gatal yang masih terasa hingga berhari-hari kemudian. Dengan berasumsi bahwa kondisi jalur ke pos-pos selanjutnya juga sudah terbuka lebar, hari kedua kami mematok target untuk bisa sampai di Pos Ereng-Ereng Atas. Sebagian air dan logistik kami tinggal di Pos Cemara. Pengurangan sebagian beban ini diharapkan bisa semakin memaksimalkan kecepatan langkah kami.

Selepas Pos Cemara hingga Pos Ereng-Erang Atas, kondisi jalur cukup berat, nyaris tanpa bonus. Beberapa anggota tim mengeluhkan menu sarapan (roti tawar, keju, dan telur mata sapi) yang tidak cukup untuk mendongkrak stamina untuk menembus tanjakan demi tanjakan ekstrim menuju Pos Ereng-Ereng Atas. Butuh 11 jam, sebelum akhirnya kami bisa duduk dan gegeni di batas vegetasi Ereng-Ereng Atas. Di sana porter kami cuma berkomentar singkat, "Ini benar-benar ugal-ugalan, tim-tim terdahulu butuh 4 harian untuk sampai sini, sementara tim ini cuma butuh 2 hari". Kami cuma tertawa panjang mendengar komentar spontannya itu.

Pagi berikutnya, di Puncak Raung Kalibaru, tubuh kami sudah terpasang harness, carabiner, dan peralatan pengaman tubuh lainnya. Hari ketiga ini kami berharap bisa singgah di Puncak Sejati. Diperkirakan butuh satu hari untuk pulang pergi dari Puncak Kalibaru. Cuaca begitu cerah, langit di atas kami tampak biru, tidak ada angin yang bertiup keras. Di depan ada bentangan panjang igir-igir tipis dengan kanan kiri jurang dan kawah yang dalamnya ratusan meter. Kami akan melaluinya dengan cara moving together, berjalan bersama dengan masing-masing anggota tim terkait dengan tali kernmantel dynamic rope.

Critical moment sempat terjadi saat lead climber menaiki kubah Puncak 17 dengan kondisi bebatuan dan pasir yang rapuh dan mudah ambrol, sementara di bawah menanti jurang yang puluhan meter dalamnya. Begitu pengaman dan tali terpasang di Puncak 17, anggota tim yang lain satu per satu menyusul menggunakan ascender sebagai alat bantu yang sekaligus mengamankan tubuh mereka hingga tiba di atas.

Saat menuruni Puncak 17, dekat dengan ujung Curah Malang (ini sebutan penduduk setempat untuk jurang yang dalam) bergantian kami rappelling, dan berpindah ke punggungan berikutnya untuk mencapai trek terakhir menuju Puncak Sejati.

Kabut hanya menyapa kami sejenak sepanjang 4 jam summit attack itu, selebihnya langit biru cerah sepanjang hari. Pukul 11, satu per satu anggota tim memelukku erat di Puncak sejati Gunung Raung. Ya kami berlima akhirnya bisa singgah sebentar di titik 3344 mdpl itu.

Sore hari pukul 16.00, saat tiba kembali di Pos Ereng-Ereng Atas, kami bertemu kembali dengan timnya bang NIkk, mereka menjadwalkan untuk menuntaskan pendakian ke Puncak Sejati pada hari berikutnya. Malam itu kami makan besar di Pos Ereng-Ereng Atas, dengan menu hasil kolaborasi tiga chef utama kami yang benar-benar tampil habis-habisan meracik makan malam hari itu.

Hari keempat adalah hari perjalanan pulang. Saat berjalan turun, kami punya banyak kesempatan untuk menikmati view pohon-pohon besar dan deretan lereng yang bergelombang di atas sana. Sisa logistik juga kami habiskan sepanjang perjalanan turun itu, entah karena kerja tiga chef yang rajin, atau memang perut-perut kami yang lapar. Selepas Isya kami tiba kembali di rumah Pak Mus, segelas kopi Wonorejo menyambut kedatangan kami malam itu. Aroma dan kepekatan kopinya cukup untuk menghapus rasa penat dari perjalanan turun itu.

Menurut catatan kami, lintasan menuju Puncak Sejati dari desa Wonorejo, kecamatan Kalibaru, Banyuwangi sudah terbuka cukup lebar. Jika betis-betis kalian khilaf, kalian juga bisa menempuhnya dalam 4 hari pulang pergi, seperti halnya tim kami. Critical point hanya akan ditemui selepas Puncak Raung Kalibaru hingga Puncak Raung sejati. Dibutuhkan kemampuan teknis tali temali dan penggunaan alat-alat bantu dan pengaman pemanjatan. Ada porter handal yang sewaktu-waktu bisa membantu kalian untuk bisa singgah di sana. Jika butuh pemandu, dua rekan kami juga berkenan untuk memberikan jasa profesionalnya. Jadi siapapun bisa singgah di sana, termasuk juga manusia-manusia kota yang kebetulan suka bau harum hutan dan singgah pada lereng-lereng berkabut, seperti kami.
Pelaku : Taufan, Titi, Kisut, Sinyo
sumber : http://teamugal2an.multiply.com

I'm Falling in Love (2211mdpl)

Oleh : Tanti Lestari

First time I come and ……2211 mdpl I’am falling love
Berjalan dengan awan bergelayut yang hari itu yang tetap bersahabat sebagai atap gunung salak itu menemani perjalanan kami yang sudah mulai terasa berat , beriringan kami berlima menuju pos 4 yang sudah mulai menapaki jalur salak
yang sebenarnya dan sambutan-sambutan istimewa di tiap jengkal dan sandungan langkah kami, senyum tipis, raut wajah yg berubah-ubah layaknya awan yang memayungi langkah kami, dan harapan yg telah menyatu menjadi pemicu adrenalin kami agar kami segera tiba dipuncak itu , dan ramahnya alam ini kepada kami sampai kami meniti tanjakan terakhir sebelum puncak 2211 kami pijak dengan senyum tipis dengan rasa syukur yang tercurah kepada tuhan dan alam ini akhirnya kami mencapai tempat tertinggimu dengan selamat ……..

Day 1 sabtu jam 7.10
Janjian 3 hari sebelumnya sama mba jenny juga gagap di halte UKI jam 07.00. hari sabtu pagi gue dateng telat di halte UKI gara-gara nunggu patas 45 dari tendean agak lama. Gagap sudah telp dan tak berapa lama gue sampe di halte itu, gue lihat mba jenny, gagap dan devy yg baru ku kenal pagi itu…..setelah berkumpul kami mergerak memasuki lorong tempat bus itu menunggu penumpang, rupanya tak terlalu lama kami menunggu dan 10 menit di dalam bus itu akhirnya bus perlahan mennggalkan terowongan itu.

Jam 09.25 aku dibangunkan asep juga gagap yg berada disebelahku kalo sebentar lagi kami sampai di pertigaan cimelati, sedikit gugup dan kaget akhirnya akupun mengangkat daypack yg gue pangku dan kami beriringn turun dari bus itu dan langsung menuju warung nasi padang lagganan mb jenny tiap kali berkunjung ke rumah keduanya itu ….” Tan kamu mesen apa ? “ mb jenny menawariku juga yg lain. “aku nasi padang dan rending aja mba “ sarapan pagi itu sepertinya belum terlambat apa lagi kami akan memulai perjalanan yang cukup pajang.aku sedikit heran ketika kami memasuki warung padang, lima tukang ojek buru-buru nyamperin tapi tidak menawarkan mau kemana ‘teh atau aa ? mereka Cuma diam dan sabar menunggu kami, rupanya mereka sudah hafal betul kalo mba yg satu ini sering naik gunung salak dan ojek itu ternyata langganannya ….. ( baru tau setelah Tanya sama mb jenny )

Setelah bungkus 6 nasi dan beres-beres kami membayar sarapan itu dan langsung naik ojek sampai di pertigaan menuju pos satu hutan salak I ini…..sekitar 30 menit kami duduk manis bareng tukang ojek itu, aku hanya bisa melongok kekanan dan kiri ternyata jalur ini memikat dan memenuhi pikiranku, seperti apa yah nanti jalurnya ? enak ga yah ? banyak pacetnya ga ya ? mampu ga yah ? ( bertanya-tanya dalam hati ) sebelum semuanya itu aku lontarkan satu persatu kepada guide sekaligus temen seperjalanan ini.

Sampai di ujung aspal itu, kuliahat jalan tanah yg cukup lebar dan sekaligus pohon tinggi-tinggi yg rapat rupanya ini yang menjadi jalur awal track ini, mb jenny memberitahuku “ ini tan jalannya …….” Aku Cuma menjawab singkat “ iya mba ….” Masih di ujung jalan itu kami tetap sempetkan ambil beberapa jepret foto setidaknya merecord awal timing kami naik, sementara asep dan gagap mendahului kami menembus hutan itu untuk ganti kostum diantar belukar itu, kami masih asyik hihihi dan jeprat-jepret kesana kemari dan akhirnya kami mulai memasuki jalan tanah itu menyusul asep juga gagap.

Masih mba jenny memberitahuku “ ini pos satu tan …tapi sudah tidak ada nama posnya …” , “ oh iya mba …. Luas juga yah ..” aku menggurai mata dari ujung ke ujung mengamati area ini, cukup luas dan bisa muat banyak tenda, sedikit menunggu asep, gagap yg sedang ganti kostum dan mb jenny pipis, aku sempetkan nyari suara bluubbbb…bluuub ……aku mengira itu pipa bocor tapi bukan itu yg kulihat, sebuah mata air yg cukup besar ada disemak-semak itu ……( oh bisa digunakan nanti waktu turun , pikir gue dalam hati ) kulihat dikejauhan ada 2 0rang yg sedang bersandar di bawah pohon itu, dengan atributl lengkap dan baju korp, ruanya ada yg diksar disini…. Dan ternyata emang betul setelah ditanya sama asep, mereka dari edelwais atmajaya.

Setelah semunya siap kami mulai berdoa semoga dalam perjalanan ini kami selamat dan lancar sampai kami kembali lagi, setelah melepaskan doa kami meniti langkah satu persatu meninggalkan pos satu dan menuju ladang penduduk sebelum kami memasuki hutan kembali. 15 menit berlalu kami berjalan akhirnya kami sampai di percabangan jalur , menurut mba jeni kami harus lewat jalur sebelah kiri dan terus menanjak hingga menemukan punggungan yang terbuka .

Sampai juga di persimpangan jalur ke desa cibuntu yg mengarah ke sisi kiri lembah dan jalan lurus ke atas menuju pos 2, setelah berhenti cukup lama menikmati pemandangan dan narsis ( tetep ) kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2.

Pos 2
Perjalanan sedikit terhenti di jalur yg sempit itu rupanya tim dari atmajaya sedang beristirahat cukup banyak ada 8 orang mungkin lebih di lokasi itu, kami permisi dan melanjutkan perjalanan hingga sampai di pertigaan. Kami beristirahatsejenak dan mba jenny memberitahu bahwa dari pertigaan ini kami harus bergerak ke kiri atau ke atas menuju pos 1. Di banyak sekali bungga putih berguguran, aku bertanya “ ini bunga apa mba ? tanyaku sama mba jenny , dengan lembut mba jeany menjawab “ oh in namanya bunga puspa tan …. Cantik kan tan …..” he eh sambil manggut dan menggenggam bunga itu sebelum aku foto itu,sejenak kami berfoto ria disini. Kembali kami berjalan dan jam 11.05 kami tiba di pos 2 dan beristirahat sejenak, ku keluarkan minum the kotak yg asep belikan untuk perjalanan ini, sengaja aku ga nawarin ke gagap, sementara mb jenny asyik dengan nu green teanya juga devy, ku sedot the itu sendiri sebelum gagap nyamber secepat kilat di pos itu.

Sepanjang jalan kali ini aku sedikit bawel, hal yg aneh ku temui ku Tanya-tanya sama mb jenny, ( norak bgt kesannya apa emang efek ketidaktauan soal gunung ini, ga ngaruh kali ), di pos 2 ini vegetasi sudah berubah banyak ditemui pohon besar-besar dan tinggi juga banyak sekali pohon puspa tapi bungganya ga sebanyak tadi, celingukan ke atas dan kanan kiri, “ mba …ini pohon duren bukan ….? Kok ga ada buahnya ? tanyaku. ….”alaaah fatamurgana lu tan baru di pos 2, pohon puspa dibilang pohon duruen …..” Cuma nyengir aja dengan celaan gagap ….sambil berlalu, disela-sela perjalanan riuh dan berisiknya gagap sama asep cela-celaan hingga tak terasa pos 3 sudah di hadapan.

Pos 3 jam 01.10
Tiba di pos ini rasanya senang sekali, kami sampai di lapak yang cukup luas berkisar 5 -6 tenda, di kelilingi pepohonan yg rimbun baik untuk camp jika tidak ini melanjutkan perjalanan dan dilanjut ke keesokan harinya tapi masih belum ada setengah perjalanan…. Gagap makan di pos itu, kami hanya menunggunya karena sarapan tadi masih cukup kuat menahan lapar kami hingga 2 jam kemudian. Kita makan dios 4 aja ya tan …..” ok deh kita masih kenyang devidan asep hamper bersamaan ….sementara aku Cuma senyum ….” Oh ya mba sekalian bikin kopi item dulu biar perjalanan semangat lagi “. informasi dari mba jenyi ini adalah track terpanjang sekaligus melelahkan juga sudah merasa jalur yang sebenarnya ….2.5 -3 jam kita akan sampai di pos 4 nanti. melirik jam ditangan asep berarti kita harus segera melanjutkan perjalanan, jam 01.20 kami melanjutkan perjalanan.

Pos 4 jam 16.05
Perjalanan memang terasa melelahkan jalur yang semakin terjal dan cuaca yg mulai gelap juga stamina yng sudah mulai berkurang, 15 menit selepas itu kami tiba di sumber air yang tidak jauh dari pos 3 ini,yang berada di sebelah kanan jika kita dari arah bawah menuju puncak, kami beristirahat sejenak dan akupun sempetkan untuk melihat langsung, ( niatnya agar tahu kalo suatu saat aku kembali lagi ke gunung ini ) mb jenny dan devy sudah berada disumber airi tu sementara aku menyusulnya dan tanpa babibu aku langsung meminumnya “ seger mba…airnya “ devi ikut mencuci tangan dan mukanya.dan kami kembali ketempat tas tdi ditinggalkan, sementara asep mengambil air itu untuk cuci bahan sup untuk nnti malam.

Perjalanan ini memang terasa panjang dan menguras tenaga, banyak cabang dijalur ini, sampai aku lupa mengingatnya yg dikasih tau sama mb jenny. Kembali perjalanan dilanjutkan dengan diam dalam sepi kami berjalan beriringan dan hanya diam, hanya kata- kata dalam hati yang merayapi dan desiran nafas jugapeluh yang bercucuran menuju pos 4 ini, sesekali kata –kata itu terlontar dan kembali diam sunyi senyap sore itu,akupun terpaku diam dan hanya beberapa kata yg bisa kujawab …” kamu kenap tan diam saja ? merak a mencoba menunggu jawabanku, “ aku laper niy …irit tenaga jadi aku diam aja “ …..”masih mereka menyelaku “ ooooo ternyta itu sebebnya knp kamu idam laper toh ….” Aku Cuma senyum hehehe iya niy dah saatnya makan, sampai akhirnya kami menemukan pohon berukuran tinggi besar di kanan jalur dan sebuah lapak miring cukup luas, …” kita sampai pos 4 ya mba ? tanyaku lagi …” iya tan ini pos 4, lega rasnya kalo kita sudah tiba dipos ini, ke atas sudah nyatai “ jawab mba jenny panjang, sementara asep dan devy nyamperin gagap yg sudah buka lapak duluan buat bikin kopi di pos itu, sruupt kopi pans sore itu cukup memmbangkitkan semangat. Mba jenny mengeluarkan ponco dan digelar untuk alas makan kami sore itu, juga kopi khusus buat aku dan mb jenny kopi kapal api…..dan aroma wangi itu segera mengiur aku untuk egera menyruputnya……wuih enak bgt mba…..cangkir biru itu ku kasih ke mba jenny dan segera diminumnya.

Kami makan seadanya dengan bekel yg kami bawa, dengan rendang dan kering tempe, karena sudah sore kami segera merapikan barang bawaan yang dikeluarin dan segera menuju pos 5.

Pos 5 jam 18.05
Mba…pos lima itu masih jauh ga dari sini ? panjang ga ? asep Tanya ke mba jenny, sekitar 1-1.5 jam lah kalo kita jalan santai” .sahutnya. akhirnya kami kembali melanjutkan perjalanan ini, medan sudah mulai terjal dan kubangan lumpur sudah sering di temui, sehingga kami harus memilih jalur yang bener2 aman dipijak, agar sepatu ini tidak terperosok dilumpur hingga mata kaki.

Kembali kami melangkah tidak banyak canda tawa seperti di bawah tadi, kami hanya memikirkan gimana menghindari lupur, meniti akar, melangkah dan merunduk di kala pohon tumbnag atau emang harus melipir …..sore itu titik embun mulai berjatuhan, tapi tak ada satukatapun yg terucap akan datangnya air ini, kami hanya diam dan terus melanjutkan perjalanan, kami hanya menyiapkan headlamp agar nanti tidk ribet. Dan jam 18.05 kami tiba di pos 5 yang berada di kiri jalur ini, masih cukup terang dan beritirahat sejenak sebelum kita melanjutkan ke pos 6.

“ mba sampai ke pos 6 kira-kira bearpa lama ? ungkap gagap, “45- 1 jam akan sampai di pos 6, tidak terlaluj jauh kok gp ….sahut mb jenny, kami kembali melanjutkan menuju pos 6 dan head lamp semua sudah terpasang, tapi karena masih terang kmi blm menyalakan nya.

Pos 6, jam 06.55
Sambil berjalan beriringan langkah kami semakin lambat karena memang lupur yang dilewati juga hari sudah gelap, gagap yg sudah di depan kembali memanggil-mangil,kami diamkan saja toh kami melihat dia….jadi jarka tak begitu jauh, sambil berjalan aku bertanya sama aspe “dah diketinggian berap sep ?” …. 2010 “ oh ya udah …… dalam hati bener ga niy altimeternya soalnya di pos pertama tadi blm sempet di kalibrasi jadi itunagan itu bisa benar atau salah…karena di set waktu di pos 4.

Akhirnya pos 6 itu terlihat, aku lega setidaknya jalur menuju puncak hanya tinggal beberapa waktu saja, sejenak beristirahat dan munum akhirnya Kami melanjutkan menuju puncak.

Puncak 19.50
Jalur di pos 6 ini tidak begitu jelas ku lihat, hanya samar-samar dan banyak sekali kubangan lumpur dan genangan air di ceruk –ceruk kecil, ku coba tetap meniti langkah demi langkah, nyala headlamp begitu terang dan menerangi sekeliligku, tak ku duga saat itu aku dibelakang mba jenny dan tiba-tiba duuuug…… kepala mb jenny terkantuk kayu….. tersandar di tanah yg lembab itu “ ga papa mba …?? “ ucap devy… “ nggak apa2 tunggu ..ambilkan conterpine di atsa carilku …” mb jenny menimpali. “ iya…iya mba tunggu “ asep dan devy membuka caril itu, dan setelah kepala di oles konterpen kami segera melanjutkan perjalanan kembali sebelum malam merangkak naik.

“ sep diketinggian berapa sekarang ? “ gue membuka percakapan kembali dibelakang , “ 2085 jawab asep singkat “ wah masih 126 lagi pikir ku, kembali terdiam dalam gelapnya malam itu, tim seolah tak ada bahan untuk dibicarakan hanya suara buggg….. pletak injakan sepatu di lumpur dan ranting kering ….perlahan langit terbuka aku berharap segera tiba dipuncak ….aku ga tahu sekekililing yang aku tahu hanya gelap dan gelap.

Medan terbuka dan satu pondok berdiri disamping makam, perlahan serempak mengucapkan “asalamualaikum …..” alhamdulilah kita sudah sampai dipuncak ….aku girang tapi kok aku melihat makam jadi girangnya ga jadi.aku diam dan terpaku melihat sekeliling. Sebelum diputuskan kita ga akan buka tenda dan tidur di pondok itu. (alhamdulilah akhirnya gue ga jadi gelar flysheet soalnya ga bawa tenda )

Setelah membersihkan dan ganti baju akhirnya kamipun beranjak untuk makan malam, ku persiapkan sup dibantu devy dan mba jenny …dan tak berapa lama kita makan malam dan akhirnya tidur …..zzzzzztzttztz bobo manis tapi ga manis.

Pagi hari jam 05.30 mba jenny membangunkan, “bangun-bangun sunrise sudah keliatan di balik pondok ini “….aku yang masih tidur langusng berdiri dan nyari2 dimana karma ku disimpan, buru –buru merapat ke dinding dan buka terpal biru itu dan hahahii rebutan tempat cari angel yang bugue …. “hehehe dapet mba kata ku “ gagap juga ga kalah hebohnya sampai mengusir tempat ku untuk ambil foto itu…….

Sampai jam 8.50 kami berada dipuncak sarapan pagi, narsis dan packing sebelum kami melanjutkan untuk turun.berharap agar dalam waktu turun kami tidak kehujanan.

Move Going down …
Setelah memanjatkan doa kamipun segera meninggalkan puncak itu yang semaleman kami cumbui, perlahan-lahan kami meninggalkan jauh tempat diimana kita camp semalam. Kembali keceriaan itu hadir, bersama meniti langkah dengan lagu-lagu yang dilantunkan tanpa irama yang pas….ku dengar mba jeni dan asep dengan lagu melo dan love song nya sementara gagap nyanyi lagunya metalika seolah jalur itu jadi took kaset dadakan …aku juga ikut nyanyi tapi ga terdengar jelas….perlahan pos 6 kami lewatin dan beristirahat sebelum kami melanjutkan ke pos 5.

Perjalanan terasa singkat dan pos 5 pun kami pun jalan santai dan target istirahat lama di pos 3 deket dengan mata air untuk makan dan minum, perjalanan dari pos 5 ke pos 4 pun tak begitu jauh…. Walaupun jalur cukup jelas dan nyaman tapi apa mau dikata kalo udah nasipnya kebanting di pos ini, aku hanya tertegun saat kaki kiri dan lenganku terkantuk akar-akar itu …. ( .penegn nagis tapi ga jadi ,masa secengieng itu siy …..) akhirnya aku pun beristirahat dan menunggu mba jenny dan devy yang ada dibelakang.

Mata air itu
Perjalanan terpanjang di jalur ini dipos 4 menuju pos 3 kami lalui sampai pada akhirnya mata air yang kami tuju , istirahat dan membuka daypack dan mulai memasak indomie untuk makan siang, sementara mb jenny cukup dengan nasi goring yang tadi dibuat diatas……..kamipun agak lama, bersahut dan saling tatp satu sama lainnya….rasanya aku pengen segera pergi meninggalkan tempat itu.

Setelah packing kembali kami langsung melanjutkan ke po 3 hanya lewat saja dan langsung menuju pos 1, tiba di pos 2 lega rasanya karena perjalanan ini hamper berakhir dan kamipun berpapasan denagn pendaki yang mau naik.tak lama kami beristirahat dipos ini dan segera turun.

Sampai juga dipunggungan yg kemarin kami beristirahat dan berarsis, kami berhenti dan berfoto sebelum kami meninggalkan pos 1 dan kembali ke pertigaan cimelati degan ojek. Setealh berberes-beres dan makan bakso kami bertolak ke bogor dan dilanjutkna ke rumah masing-masing, kami berpisah sama gagap di terminal bogor sementara aku mb jenny dan devi juga asep berpisah di UKI dan kembali ke rumah masing–masing.

Thanks to :
1. Allah SWT yang selalu melindungi umatnya
2. Orang tua yang sdah ngijin weekend 3 minggu berturut-turut ga dirumah
3. Mb jenny yang menjadi guide sekaligus temen seperjalanan yang asyik
4. Asep pacarku yang selalu setia menemaniku
5. Devi, temen yg baru kukenal tapi raham juga baik hati
6. Gagap yang mewarnai perjalanan ini
7. All my friends ….

Tersenyum di Mandalawangi

Oleh : Tanti Lestari

Masih seperti tahun lalu surga yang pernah kusinggahi dan semilir angin lembah berhembus menusuk tulang di senja yang sunyi, gurat keperakan di barat terlihat jelas namun terhalang dengan ranting cantigi dan pepohonan di sekitar puncak pangrango,

ku tertatih berjalan sendiri merasakan keletihan namun aku tersenyum bangga, akhirnya aku mampu melewati perjalanan berat ini. Kuncup-kuncup edelweiss yang bermekaran yang menari di terpa angin sepoy-sepoy disenja itu, padang yang luas dan pemandangan yang sangat indah kulihat,subhanallah…edelweiss itu sedang bermekaran dan aku tak mampu berkata lagi.

Jumat malam 22.00 Kp. Rambutan
Seperti biasa tempat ini favoritnya aku untuk bersua dengan temen2ku ketika akan memulai pendakian ini, saling tunggu sebelum kami melanjutkan menaiki bus-bus yang masih setia nongkrong di depan kami. Kami ber sepuluh menuju pangrango, di rambutan ketemu tim cikuray yg sebelumnya aku dan anton menebar bisa dan meracuni mereka tapi tanpa hasil, kuliat mba jenny, devi, mba susi dan adhit yg mo jalan ke cikurai kutinggalkan begitu anton dan heru muncul ( takut diculik ) sesaat kami bersayonara dan kami segera meninggalkan terminal yang masih ramai itu.

Tiba di per3an cipanas, aku telp afan, yang sudah dulu sampai di mang ini, dan telp alvine, kalo kami sudah mendekati sasaran dan segera memporak porandakan kedai cantigi yang rapi dan nyaman.

Sabtu pagi Jam 00.30
“ hallo alvine, kami sudah di per3aan cibodas sebentar lagi sampai di temat mu , btw ada nasi kan disana “ ( halah urusan perut ga mau ketinggalan ) sahut di seberang telp “ ada mba tenang sip ….” Dan tut..tut ….kumatikan telp itu. Kami bergegas naik angkot kuning dan mampir mang idi untuk jemput afan dan tiba di kedai cantigi.

Celingak –celinguk cari yang namanya alvine, seperti apa dia dan dimana dia pekik aku dalam hati, "assalamualaikum, bang alvine nya ada ? “ ku salamin salah satu yg ada disana. “ Mana bang alvine ? dan ga lama sosok tinggi ga tinggi bgt , kurus dan rambut gimbal panjang dengan senyum yang mengembang sambil mengulurkan tangan “ saya alvine “ (oh ini pahlawan kita yg dah bantuin kita ga pake bolak balik buat booking dulu ) perkenalan singkat kami teruskan dengan makan lontong sayur anget dan the panas . kulihat anton dan asep juga iyan sedang asyik ngobrol sama alvine sementara aku, dan heru juga opet dan J , afan memilih diam merapatkan sendok ke mulut dan bunyi kriuuuk saat krupuk mendarat pas di mulut rasanya nikmat sekali malam-malam dan sepiring lontong sayur anget. Nadia yang sibuk ke kamar mandi ( dasar beserwati ) juga jon yang langsung menyandarkan kepalanya di bantal empuk putih dan meringkuk dibalai yang lebar sambil nonton TV ( dasar kebo ) . ga lama alvine menyodorkan simaksi yg titipan kami dan kami isi.

“ bang, bungkus nasi 1 lusin yak …sama the panas 1 saja “ buat dibawa aku meminta nya. Kami sambil berkemas dan rencana naik jam favoritnya 03.00 dini hari. Biar seger dan nyuri start kan bisa leyeh2 di jalur nanti.

03.00 Sabtu dini hari
Setelah berpamit sama alvine and the gank kami meninggalkan kedai cantigi dan siap mendaki, di tengah jalan lupa sebagian blm pada beli air, akhirnya sebelum memasuki portal kami berhenti dan beli air, tinggal anton, heru, nadia, afan dan aku yang diam disitu, selebihnya turun ke jajaran mang idi buat beli air minum. Cukup lama kami menunggu, udara lagi dingin-dinginya mendekati subuh, setelah melihat gerombolan ala kuburan band ( semunya pake kaos item siy ) akhirnya kami menuju pos jaga untuk melapor dan mulai mendaki.

Tiba di pos jaga, terlihat ada beberapa pendaki yang sedang duduk, rupanya meraka juga akan mendaki subuh ini, kami mendekat dan tak lama terlihat itu rombongan temennya heru. Kami berbaur sejenak sambil mendaftarkan diri sebeum akhirnya kami berdoa dan memulai perjalanan ini.

Jam 03.45
Berdoa menyerahkan segalanya kepada tuhan dan kami memulai pendakian, cuaca yang cerah menjelang subuh menjadi teman kami selama perjalanan ini. Kami berbaris mengikuti jalur yang kami lewati dan cahaya senter yang menerangi dan membimbing kami untuk melangkah di plot jalur yang bener, aku tak memakai senter dan nebeng sama asep, kami beriringan dan sesekali bersusulan dengan tim lain yang memulai pendakian yang sama.

Di telaga biru rupanya banyak pendaki yang sedang beristirahat dan camp, suasana pagi itu masih sangat gelap namun keramain para pendaki memecah kesunyian subuh dengan terang temaram dari camp master yang terpancar dari sudut bangunan di telaga biru itu.kami memilih istirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan sampai di pos panyangcangan.

Pos Panyangcangan jam 04.55
Berjalan menuju panyangcangan tak lama, kami sampai jam 04.55 masih dingin dan gelap, di pos terlihat satu tenda dan beberapa pendaki yang entah sudah bangun apa emang ga tidur sedang memasak air untuk menghangatkan badan, aku, asep, heru dan anton tim pertama yang datang, aku duduk bersandarkan caril dan mulai kedinginan, teringat matrasku di lipet di samping caril, tak terasa tangan ini mengulur mendekati matras dan dibukanya, melipat tangan di dada dan memejamkan mata sesaat setelah ku liat J, opet, jon yang menyusul membuka ponco di balik pohon besar di kiri jalur itu, ku lihat adik kakak yang kompak terlelap di ponco sebelahku, sementara iyan, nadia dan affan lari-lari kecil mendekati cibereum untuk ambil air wudhu dan solat subuh, setelah itu kembali meringkel menjadi empat titik seperti rasi bintang. Kami terlelap cukup lama di panyangcangan.

Jam 06.00
Kami meninggalkan pos ini, pos ini masih terlihat sepi, mungkin tim advance ( yg jalan subuh ) sudah meninggalkan tempat ini jauh di depan. Kami memulai pendakian kembali dan inilah seperti hari- hari lalu, jalan terpanjang yang membosankan tapi aku selalu aja mau balik lagi melewati ini. Berjalan beriringan dan akhirnya terpecah dan kembali bersatu ketika ada tanah datar atau sekedar bongkahan bekas tempat istirahat, sesekali meneguk air dan berhenti untuk beristirahat.

Sampai di pos rawa denok kami beristirahat cukup lama, minum dan membuka snack untuk mengisi sarapan kami yang ala kadarnya, sebelum kami melanjutkan kembali langkah ini, kicau burung menemani langkah-langkah kami

Air Panas Jam 09.50
Sampai di pos ini kami beristirahat, hamper 1 jam kami bercengkrama disini, heru dan anton membuka trangia dan masak kopi, sementara opet asyik dengan kameranya buat futu air dengan teknik apa yang gue ga ngerti yang hasilnya bagus deh …( sumpah norak ) dari pos ini tumben bgt punggungan di sebelah terlihat jelas dan dibawah terlihat tatanan apik yang terlihat kotak-kotak putih berjejer dan membentuk sebuah barisan dikejauhan sana ( mungkin sisi lain kota cianjur ) dibalik bukit itu indah sekali, menikmati riak dan uap air yang mengalir rasanya mengalihkan pandangan buat kami untuk melanjutkan sampai kandang badak.

“ jalan yuk …biar kita bisa makan siang di kandang badak “ sambil aku beridiri mendekati carilku yang tadi kusandarkan di sudut pos, setelah berkemas kami kembali melanjutkan perjalanan yang sudah mulai menajak tapi mendingan ga panjang sepeti dari panyangcangan tadi.

Kami beriringan selangkah dan berulang meninggalkan air panas, sesekali terhenti dan beristirahat, rasa kantuk sudah menjalar di kedua mataku, mungkin juga yang lain, aku ga tahan ku biarkan matrasku terbuka lebar dan terbaring di sisi jalur, “ gue tidur dulu yak ..sumpah ngantuk bgt, lo duluan aja “ kata ku kepada yang lain, sekilas aku masih mendengarkan suara brug…bgrug… suara sepatu mendekat dan pendaki lainpun melewatiku. Terlihat asep yang yang masih duduk rapi disampingku dengan sebatang rokonya . perlahan anton muncul dan ikut duduk ( ngapin ton …? Capek juga apa nemenin gue ? ) setelah terlelap cukup lama aku terbangun kuliat anton dan asep masih duduk di tempat itu dan akhrinya kembali melanjutkan perjalanan ternyata kandang badak tak jauh dari tempat ku tertidur.

Kandang badak 12.35
Sampai juga akhirnya di tempat ini, riuh pendaki yang bermalam disini atau sekedar beristirahat sebelum melanjutkan kep uncak gede atau pangrango. Kami beristirahat target kami jam 14.00 kami kan melanjutkan ke puncak pangrango, dan disini lah kita akan makan siang.

Afan yang polos dan baru pertama kali naik gunung terlihat sangat antusias dan bertanya “ mana kadang badaknya mba “ sambil mengacungkan telunjuk jari kearah bangunan yang udah usang itu ku tunjuk kan kalo itu yg dinamai kandang badak. Sesaat kami beristirahat terdengar suara pendaki yang kecapean dan tertidur pulas yg ngorok, dan affan kembali berucap “ suaranya seperti badak di kandangnya “ spontan tertawa riuh menggelegar apa lagi yang namanya anton dan asep.

Opet memulai membuka carilnya dan mengeluarkan cumi dan tempe malang ( beli dimalang bener apa di mana cak ..? ) makan siang dengan tempe goring dan tumis cumi. Kami memulai memasak. Bau harum bawang yang ditumis membuat aku semakin lapar dan setelah semuanya selesai kami makan bersama, hanya anton dan heru yang lebih simple makan nasi ditambah mie + kornet . ( iya ton gue tau bgt lu males nunggu lama –lama to …? )

Setelah berkemas dan jam 14.10 kami meninggalkan kandang badak dan berjuang melewati pohon tumbang, melangkah atau merunduk yang kami lalui dangan caril dipunggung. Huwaaaaa ……berat boo tapi yg beruntung aku dan anton, jatah bawa caril hanya sampai kandang badak, selebihya asep dan heru dapat bagian.

Cuaca tak terlalu buruk, hanya mendung dan sedikit kabut jenuh turun, aku berisiap memakai celan raincoat. Setelah setengah perjalanan rupanya hujan turun, bersyukur tidak deras tapi jalur makin licin dan harus berhati-hati melewitinya. Kami beristirahat dikala menemukan tanah datar dan hihahihi top bgt jalurnya.

Semakin sore semakin gelap dan udara terasa begitu dingin, “ udah mo sampe belum yach “ nadia yang bertanya , pokonya kalo sudah lewat tanah merah dan sedikit datar kita mendekati puncak itu kata anton. Dan bener siy walaupun sempet beberapa kali fatamurgana dan bertanya-tanya kok ga sampe- sampe perasaan waktu itu hanya sebentar ( ya iyalah wong ga bawa caril )

“udah jam berapa nih “ kutanya J yang ada di belakang ku “ jam 5 kurang “ oh …bentar lagi kali yah 15 menit apa setengah jam lagi sampai. sadari tadi kalo ga 15 menit ya 30 menit yang ada diotak kami sampai 15 dan 30 menit yang keberapa niy afan dan nadia yang baru sekalinya kesini , pokonya sebelum magrib mudah2an kami sudah di mandalawangi.

Perlahan dan terus akhirnya kami sampai di titik yang anton sebutkan, jalan lurus agak dan berbelok ke kanan dan rata itu mendekati puncak pangrango, aku berjalan terpisah dari yang di depan iyan, nadia, asep dan heru sementara dibelakang masih ada opet, j, afan dan anton …..ku lari-lari kecil mengejar sunset yang akhirnya perlahan mulai tidak tampak lagi, disusul afan yang ada dibelakang ku “ liat fan …itu gurat-gurat sunsetnya keren bgt, tapi sayang ga jelas dari sini “ kutunjukkan awan kuning di sebelah barat itu “ iya mba bagus emang dah sampe puncak yach …..” tak lama kami sampai di puncak pangrango. Dan ku tunjukakan tempat gie suka menyendiri, dan gubug yang dah bolong2 dan reot itu pas bgt buat melihat puncak gede yang terlihat gigiran kawahnya dan asap mengepul tampak jelas kalo lagi cuaca bagus.

Masih binggung melihat sekeliling, afan ku tarik ke mandalawangi menyusul yang lain, butuh waktu 8 menit untuk sampai di mandala wangi dan ini lah mandalawangi yang kurindukan.

Kuncup edelweiss yang sedang mekar dan terlihat putih bersih menghiasi pohon-pohon tua yang bergerombol membemtuk barisan yang rapi. Alhamdulilah akhirnya sampai di sini. Kuliat jam menjelang magrib jam 17.40.

Mandalawangi dimalam hari
Susul menyusul akhirnya tim berkumpul di tempat ini dan meletakkan caril yang menjadi beban dipunggung, kami saling membantu dan dalam sekejap tiga tenda berdiri rapi, ( eh gue ga bantuin ding Cuma pgn cepet masuk tenda ) setelah tenda rapih kami beristirahat dan ganti baju juga mulai masak makan malam. Menu dari opet sayur sop ikan asin goreng tepung, tempe . yang masak opet dibantu qjon, aku hanya bantu doa dari tenda bersama j dan asep yang meringkel di balik sleeping bag nya yang setengah caril.

Jam 19.00 kami makan malam dan membenahi tenda dan merapikan fly sheet . kami masih bercanda sampai larut sampai akhirnya kami tertidur ditenda masing-masing. Anton, heru dan afan ada di belakang tendaku, sementara iyan, jon dan nadia juga di tenda sebelah, sementara tendaku berisi aku, asep, j dan opet ( hehehehe ga bisa bolak-balik ) pas bgt untuk ber4 .

Kami tertidur di pelukan kabut malam yang dingin dan di temani irama jangkrik- jangkrik malam yang sahut menyahut serta sesekali desiran angin lembah menerpa fley sheet. Kulalui malam ini bersama para sahabatku di lembah mandalawangi. Berharap pagi segera tiba dan cuaca cerah.

Minggu jam 06.30

Ku terbangun dari tenda, kaget suara bantuk-batuk ditengah2 kami, aku pikir siapa yang sepagi ini sudah di mandalawangi, setelah melihat keluar ternyata anton yang sudah tadi terbangun dan menikmati pemandangan cerah di pagi hari, ku susul dengan membawa camera, kulihat gunung salak terlihat jelas dengan sedikit awan yang membentuk garis horiontal diatasnya.

Dalam hening pagi yang cerah kami terbagun dan bercengkrama , beberapa orang terlihat yang tiba di lembah ini, kami mulai memasak untuk sarapan sebelum kami packing dan narsis sejenak di lembah ini.setelah sarapan kami packing dan berfoto., jam 11.30 kami mulai turun.

Perjalanan Turun tercepat
Kami meninggalkan mandalawangi dan kembali ke puncak pangrango dan berfoto ria cukup lama, hampir 30 menitkami berada dipuncaki tu dan menikmat i pemandangan cerah disinga itu, terlihat dengan jelas gigiran kawah gunung gede yang terbentang terlihat berlapis-lapis dan langit biru diatas pohon yang meranggas dipucak itu terlihat cukup indah, kami satu persatu berfoto dengan gaya masing-masing.

Perlahan aku mulai meninggalkan puncak jam 12.30 menuju kandang badak, yang terlintas dipikiranku hanya beristirahat cukup lama sisana tiduran dan makan siang, sehingga perjalanan turun cepat sekali, ku tinggalkan temen –teman ku yg sudah berpengalaman di belakangku, dan tak terpaut jauh denganku merakapun berselancar ria menuruni jalur pangrango yang sehari lalu dilalui dengan senyum dan cucuran keringat.

Kandang badak jam 12.40
Disini kami makan siang dengan sisa logistik yang ada, itung- itung mengurangi beban caril agar entang tapi rasanya tetep aja berat, kami makan siang dan ngupi sebelum kami tancap gas ke air panas. Cukup waktu 1 jam perjalanan kami sampai di air panas, sambil menunggu yang lain tiba kami beristirahat di pos pemandangan yang sudah rusak.

Setelah kami berkumpul kami melanjutkan turun ke panyangcangan, dalam perjalana ini rintik hujan ketika kami mendekati rawadenok, hujan turun semakin deras dan kamipun mempercepat langkah dan sampai di panyangcangan penuh dengan pendaki lain yang neduh, kuputuskan langsung turun dan kembali ke tempat alvine.

Jam 16.30 kami melaopr dan say hallo sama yang jaga, kebetukan Cuma ada bapak TNGP yg ku kenal,ku titip pesen surta ijin ada dibelakang sama iyan, anton ,aku ,asepdan afan meluncur ke tempat alvine .sambil menunggu yg lain menyusul.

Di tempat alvine kami berbenah dan selepas magrib kami turun menuju cibodas dan kembali ke jakarta lagi.

Special thanks to :
1. Allah SWT yang menyertai perjalanan ini
2. Orang tua tentunya yang sabar anaknya ngelayap terus
3. Asep thx untuk tukeran carilnya pas turun lega bgt ternyata ga bawa caril
4. "J" ke semerunya gue TBA aja yach
5. Opet thanks udah mutuin kita narsis, thanks untuk cumi dan ikan tepungnya
6. Anton thanks yach ...maaf ketularan ngecengin elu ...
7. heru thanks juga yach di cengin juga ga marah, tar naik lagi yah ...
8. iyan ..... thanks udah bawain SB nya ( pulang jadi bawa 3 hihihi )
9. Nadia ...racun gue masuk menjalar ke otak lu yach
10. Afan ...thanks udah ikut trip orang2 aneh ini, jgn ditiru yach...

Women Trekking Series

Oleh : Tanti Lestari, Edisi : Menggapai Puncak Pangrango [ 24-25 Oct 2008 ]

“…..Senyum tipis yang terurai seiringnya triangulasi 3.019 mdpl puncak pangrango sudah terlihat, sekilas mata memandang beberapa temen yang sudah ada di sana beberapa menit sebelum aku tiba, yang lima menit lalu terdengar kisruh

dan rianya mereka menyerukan …” Hey …kita dah sampai puncak ka ….” Teriakan itu jelas terlontar dari bibir mbok ju dan neni , tim dari Surabaya juga temen-temen yang lain yang sudah lebih awal sampai di titik ini, masih dari HT yang aku pegang …… sesaat kumerenung dan kutinggalkan tugasku sebagai sweeper karna aku yakin yg kutinggalkan ka rona dan ka nita juga jenny yg bisa mengejarku dengan singkat dan akupun mengejar mereka ….. sementara ka rona dan ka nita masih asyik dengan dres code nya di tanjakan akhir itu sebelum sampai dipuncak …..ku tinggalkan cameraku di tangan ka nita …..dan akupun berjalan bersama widya dan mba diah nita….. bersama cameramen mba yuli bersama-sama menggapai puncak tertinggi gunung pangrango “……aaaaaakhirnya ku kembali ke padamu pangrango yang dingin …..”

Day 1 jumat jam 20.00

Aku sudah sampai di kp rambutan bersama lia adikku dianterin asep dan juga erry pacar adikku, aku masih berdua saat itu, 5 menit berlalu atik dan vita datang, ku tinggalkan caril aku dan akupun makan malam rasa lapar ini terasa dari tadi karena aku ga sempet makan dirumah. Sesaat kemudian aku kembali ke meeting point dan menunggu beberpa teman sambil berkenalan sama temen-temen yang nanti akan mejadi temen seperjalanan. Setelah beberapa waktu berlalu ka nita sms dia sudah ada di dalam terminal, aku masih menunggu temen-temen sampai pada akhirnya sudah terkumpul semuanya dan kita bersama masuk ke terminal itu. terlihat disana ada mas gethuk, tryas dan mas joko, juga mba heni riana …ka rona hmmmm masih ada yang kurang niy bang jo dan mba nita sama ipey lom ada sementara calo bus banyak bgt yah begitulah seperti biasa ……

Deal Rp. 10.000 satu kali tawar ke cibodas aku menawar bus dan disetujui sama awak bus …..sambil ngibul dikit kalo jumlah temen ada 28 padahal Cuma 22 ( bodo ah kadang calo sekali-sekali di gituin ) setelah semuanya naik dan ngetem akhirnya bus berangkat …. Tinggal sekar dan riza, yuli serta siska yg akan menyusul karena riza baru tolak dari bandung yg harus meliput louncingnya Sheila on7.

Day 2 sabtu dini hari jam 01.30

Kami tiba di pertigaan cibodas dan melanjutkan ke pos Montana, cuaca cukup dingin dan kami segera menuju pos itu, berharap tidak ramai dan kamipun bisa beristirahat . dua mobil cukup untuk mengangkut kami ke atas ….jam 02.00 kami sampai di depan pintu Montana ….. suara lembut ka rona memanggil bang roni dan bang kemi dan entah siapa aku ga begitu jelas …tapi tak kunjung ada sahutan dari dalam hingga akhirnya ada salah seorang ( aku lupa namanya ) menggedor pintu dan bang kemy membukanya hhmmmmm…… ga pake basa-basi kita langsung masuk dan sesingkat itu base camp yg rapih itu seperti kapal pecah oleh ulah kami dengan bongkaran caril sambil menungg sekar kami repack apa yang harus dibawa dan yg ditinggalkan.sementara timnya mas gethuk memilih jalan dahulu sampai panyangcangan.

Kulihat ka rona dan ka nita masih sempet telpun bang nanda dan kang dhanis yang masih di warung mang idi, dari sudut ruangan ka nita meminta frekuensi HT yg akan kita bawa sambil masih ngobrol diujung telp…” bentar ka nita aku cek dulu…..” kuta pake jalur external ku coba set ke frekuensi 140.000 mudah2an nanti ga tabrakan kalo siang hari.ok kak kita pake frekuensi 140.00 .sambil masih ngomong sama yang di ujung telp ka nita member tahu.

Sembari beristirahat akhirnya jam 04.00 sekar datang dan menunggu subuh tiba kami mempersiapkan pendakian subuh-subuh.setelah mendaftar ulang dan pamit sama bang kemi dkk akhirnya kami berjalan sesuai dengan pembagian tim,bisillahirahmanirohim jam 05.00 kami memulai pendakian ini.

Jam 06.00

Perlahan-lahan senter dan langkah kami beriringan terus berjalan, sampai di jembatan kayu kami bertemu dengan timnya bang nanda juga kang dhanis yang satu jam lebih awal memulai pendakian ini…..sementara tim belakang masih take di telaga biru ( dari pantuan HT…suara ka nita nyaring kita masih syuting ditelaga biru ) ku biarkan dan kutunggu di pos panyancangan. Jam 06.00 pagi udara masih terasa sejuk kami beristiraht sesaat, sementara riri , nona juga mbok ju sudah melanjutkan perjalanan, sesaat setelah temen-temen kelihatan kami melanjutkan untuk sampai di air panas.

Formasi berubah tidak jalan dengan timnya masing-masing tapi tetap masih terpantau dengn baik, kami bersama menuju kandang badak. “nita …monitor ….suara ka rona cek kondisi team yang dibelakang…. “ team belakang aman ….. 7 orang ganti ….” Aku Cuma nyengir aja …..wah pasti masih melanjutkan take. Sesaat kemuaidan “ rona monitor ….. dibekalang ada 10 orang satu peserta ada yg kecapean “ gleg …siapa gerangan aku tebak atik secara caril dia yang keliatan berat ……akhirnya atikpun di biarkan jalan lenggang,caril ka nita yg beratnya setengah berat ku itu dibawa sama jenny, sementara caril atik dibawa ka nita ….dan caril jenny dibawa mba nita, caril mba nita aku bawa …..hehehe ( membingungkan emang ) ga liat jalan depan dan kesandung2 hehehe…akhirnya nyerah juga dan diganti sama ka nita hehehe ( maaf aku keberatan ka nit ….)

Jam 10.45 kandang batu

Setelah segerombolan cewe dating mendekati air terjun, disempatkan berisitirahat di pos pemandanagn yang sudah rusak, terlihat neni yang sedang istirahat …..yang sempet ngelinding seiring caril aku roboh ke tanag …bruggg..2 caril dan satu bocah mungil tersungkur ditanah ……Akhirnya setelah melewati perjalanan yang cukup panjang kami tiba di pos air panas, terlihat timnya kang danis lagi goreng singkong wah enak rasanya …… ( makasih dah dikasih cemilan yah …) kami segera melanjutkan perjalanan dikandang batu ketemu sama timnya mas gethuk ….setelah istirahat beberapa saat kami melanjutkan perjalanan lagi.

Jam 13.00 kandang badak

Tim berjalan terpecah ada yang lebih dahulu sampai dikandang badak ( mbok ju, nona dan riri sudah sampai di kandang badak ) sementara aku masih butuh waktu 2 jam dari kandang batu hingga kandang badak, mata yang berat mendukung aku untuk tidur di tiap jalan datar dan sepi…rasanya enak bgt, HT aku ku kecilin sehingga panggilan ka rona sama ka nita ku tak mendengar……( ga sengaja abisnya frekuensi tabrakan mulu piss ya aaaa)

Kandang badak, yach kandang badak satu persatu kami sampai …..masih tertinggal sekar, neni, mba nita dan yg lain dan segera disusul ka nita,melihat kondisi sebenernya waktu masih cukup untuk summit ke puncak pangrango karena hari masih siang, tapi melihat cuaca yg tiba-tiba mendung juga beberapa temen akhirnya kami putuskan camp di kandang badak dan melihat perkembangan bagaimana nanti ….sementara lima tenda sudah berdiri berdampingan, kami segera memasukkan barang-barang masing-masing dan memulai membuat makan siang di tenda masing-masing. Sampai akhirnya tenda berdiri semua yah 8 tenda untuk 24 orang lebih dari cukup. Sementara hari itu cukup ramai di kandang badak, rupanya ada pendakian bersama juga yang camp dikandang badak. Sore itu ka nita nyamperin aku “ tan ….kita camp disini aja baru besuk pagi kita summit ke pangrangonya gimana …? “ aku iya aja karena sejujurnya aku juga lelah dan membayangkan merunduk, merangkak melangkahi pohon tumbang belum lagi kalo- kalo nanti hujan di tengah perjalanan. “ oke deh ka kita camp disini aja, biarkan teman-teman beristirahat ….”

Sementara sekar adiku yg bandel ini sedikit pucat dan memaksa tidur sebelum ganti baju, aku khawatir kenapa-kenapa ku paksa bangunin dan ku kasih minyak gosok yg panas di bawah hidungnya….( maaf yach …. Jangan dendam sama kaka-kaka mu ini hehehe )

Sore itu cuaca cukup baik dan suasana rame, aku ga tahu lagi temen-temen ngapain karena setelah semuanya beres aku memejamkan mata, capek bgt dan ngantuk bgt …..sebelum magrib aku bangun dan mulai bergerilya hingga malam hari, karena tenda sebelah sibuk menyiapkan makan malam…sementara tenda aku dan lia hanya ada makan ringan dan instan ( kaga kreatif bgt ) mampir di tendanya vita, ida, atik dan via yang masak sup, lanjut ke tenda neni dapet pir dan mampir ketenda sebelah punya ka nita yang sedang masak besar …wah asyik gerilya nya berhasil dan kenyang …..sementara depan tendaku ada tenda riri yang juga sedang masak nasi, ku kosongkan tendaku lia adikku.

Kembali ketenda, ku nyalakan HP ku dan mendegarkan lagunya the bettles, bon jopi yang berulang-ulang terputar secara memory nya kecil dan hanya beberapa lagu yang bisa kudengarkan ……bersama mba heny yang waktu itu berkunjung ketendaku sambil ngorol soal greenpeace dan sesekali mengikuti irama the beatles ( kalo dibayangain cangcuter sekarang kali yah ) …masih tetap mengalun …..

Love, love me do
You know I love you
I'll always be true
so please, love me do
oh, love me do

Love, love me do
You know I love you
I'll always be true
so please, love me do
oh, love me do

Someone to love
Somebody new
Someone to love
Someone like you

Love, love me do
You know I love you
I'll always be true
so please, love me do
oh, love me do

Love, love me do
You know I love you
I'll always be true
so please, love me do
oh, love me do
Yeah, love me do
Oh, love me do



Setelah bosen ikut nyanyi akhirnya ku rebahkan badanku setelah denger suara ka nita, tiduuuuurr….besuk kita summit jam 03.00 (wew rasanya ge rela bangun jam 3 nanti hehehe )

Sesaat sebelum tidur kami berunding bagaimana besuk mau ke puncak pangrango, deal jam 03.00 pagi kami akan menuju puncak itu, dan tepat jam 08.00 kami masuk tenda masing-masing dan bersiap untuk tidur.akupun masuk ketenda dan menutup resleting tenda , menyusup dibalik sleeping bag lia bercerita tentang banyak hal mulai dari cowonya hingga a-z tapi aku tertidur dan tak mendengar lagi suara dia ( sorry yach ….ketiduran, ceritanya sambung dirumah.

Kandang badak jam 02.30

Brug…brug….. suara kaki melangkah dan “taaaan….bangun” ( itu suara ka nita ) iyaaaaaa aku bangun ….kembali langkah itu menggelilingi area ini dan satu persatu tenda didatengin…” bangun…banguuun …sudah jam 03.00 ayo kita naik ……” berulang kali ka nita membangunkan kami…..(hehehe rasanya berat bgt mau bagun ) ku buka resleting tendaku dan melongok keluar …hmmmmm dingin boooo kembali aku menutup tenda dan mempersiapkan kostum untuk summit….jam 03.00 aku keluar tenda …ternyata bintang berkerap- kerlip terang menerangi lembah ini,cukup cerah dan puncak pangrango terlihat jelas bgt…..

03.30 summit attack ke puncak pangrango

Cukup lama dari bangun tidur hingga memulai summit kepuncak, masih ini dan itu senter ketinggalan, tanktop yg blm diambil dan lain-lain yang memperlambat , akhirnya setelah nyalain HT dan alih menurunkan frekuensi HT kami bergegas meninggalkan kandang badak, pagi ini gue dapet jatah jadi sweeper, sejujurnya aku takut kalo nanti peserta bertambah satu dibelakangku ( parno mode on ) tapi rasa takut itu terkalahkan oleh semangat menggapai puncak pangrango.perlahan gurat merah keperakan mulai Nampak selama kami masih dalam perjalanan kepuncak, rupaya kami tak berhasil mengejar sunrise di puncak pangrango, kami melihatnya semasa kami masih dipunggungan, tapi aku bersyukur karena cuaca hari itu tak ada hujan ……

Menggapai puncak pangrango …..

2.5 jam berlalu kami lalui dengan santai, perlahan-lahan kami mendekati puncak itu dan satu persatu menapakkan kaki di puncak ini ….senyum tipis dan rasa bahagia akhirnya kami sampai dipuncak ini degan selamat…. Udara pagi begitu sejuk,kami menggapai puncak pangrango bersama dan tertawa bersama dan bernarsis besama sebelum kami melanjutkan ke alun-alun mandalawangi ……

Alun-alun mandalawangi

Sesaat kami berada dipuncak itu dan kamipun menuju alun-alun mandalawangi yang disana sudah terlahat tendanya mas gethuk dkk yang sudah camp disini dari semalam…. Kami berkeliling di alun-alun itu dan bernarsis ria. 1.5 jam dimandalawangi cukup mengobati rindu akan dinginya mandalawangi …..dan disinilah klimaks dari pendakian women series ini, kesan dan pesan serta hahahihi semua tercurah disini sejenak kami serius dan kembali berhahahihi ……( sweet memory mandalawangi bersama para wanita )

dan kamipun bergerak untuk segera turun.setelah makan nasgor dan pancake dari tendanya bang jo dkk kami segera meninggalkan alun-alun ini. Satu jam berlalu meninggalkan pandalawangi dengan sejuta kenangan, kami sampai dikandang badak segera packing dan turun sebelum hari itu hujan, masih tertinggal ka nita dipuncak mandalawangi dan satu tenda masih berdiri sesaat saat aku meninggalkan camp ste itu.

2.5 jam berlalu kutinggalkan kandang badak dan beristirahat dipanyangcangan sambil menunggu tim terakhir dating, setelah semuanya terlihat akupun berjalan terseok-seok menuju base camp montana dan melapor.masih tertinggal yuli dan riza yang ternyata asyik menunggu tim lain yang kram kakinya ( two tumbs untuk solidaritas kalian )

Sesampai dimontana kami masih hihahihi sambil beres-beres sambil menunggu teman dan kembali ke Jakarta.

Thanks to :

1. Women serees team : ka nita, ka rona, putri, mbok ju, lia adikku, sekar adikku, via, vita, ida, widya, neni, mba vonny, ita, jenny, erin, riri, mba nita, ipey, riza, yuli, atik, siska,dan yg lupa namanya (maaf )

2. Bang nada dan mba heny yang dah jagain tenda kita

3. Otong,saiful dan jhon tetangga kita

4. Tim nya mas gethuk dan satu temennya yg nyusup ( bang jo )

5. om momod dan all the team yang ketemu di panyangcangan

6. iyan yang selalu jadi sahabat setiaku

Gede (episode sempurna)

Oleh Tanti Lestari, (3-4 November 2007)

Jumat malam pukul 21.30 meeting point di kampung rambutan, satu persatu berdatangan, dering telp dan sms masuk, pertama hanung dan gery yg masih otw ke kp rambutan, sesaat kemudian mb titi sama mas ei, yang bentar lagi mo nyampe. Dikampung rambutan udah ada bang Ori, yg sebelumnya sms “ tan udah pada jalan belum ? “ yang gue jawab udah bang tapi ga jalas udah dimananya secara gue baru keluar rumah nunggu angkot yang ke rambutan. Elly, neniy, bang cepot, dan amsi udah disana, dari kejauhan terlihat kaos orange dengan celana hitam pendek mendekat, ni dia bang hendri. …. .

Masih nunggu beberapa menit sebelum kita berangkat, setelah check list ga ada temen yang ketinggalan dan masuk ruang tunggu di kampung rambutan ketemu mb rina yang ada acara dicibodas sekalian bareng dan langsung masuk bus menuju cipanas.

Sementara kang budi dan mas dhanis sudah otw dan nunggu di kantor pos cipanas.

Jam 00.30 kita sampai di pasar cipanas, berjalan dan ketemu juga sama kang budi dan mas dhanis yang dah dateng duluan. Ga lama kita langsung naik angkot dan sampai base camp.

Jam 01.30 kita sudah sampai di base camp yang di tunjuk bang hendri yang biasanya buat menunggu pagi , mengambil perlengkapan tidur dan buru2 tidur, bang hendri yang dah mulai duluan dan disusul temen2 yang lain, sementara bang cepot masih sibuk buat kopi “syruuup ….enak bang, teng, untuk kopinya bener kata bang ori kopi racikannya enak banget.” Setelah makan makroni yg dibawa mb titi dan minum kopi, gue, mb titi, neni,elly dan gery masuk kamar dan …… good night untuk temen2 cowo kita yg guanteng.szzzt…szzt…szzt……go to dream.

Day 1.03 Nov 2007 05.00 am
Alarm yg dipasang jam 05.30 belum bunyi karena memang blm jamnya dan di ruang depan udah rame , temen2 sudah mulai bangun dan shalat subuh, mata berat dan dinginnya suasana pagi itu membuat males untuk bangun. Beres –beres dan langsung ke warung depan untuk sarapan dan bungkus nasi buat lunch nanti di jalan.

Pendakian dimulai pukul 07.00 setelah beberapa saat lapor ke GPO. Perjalanan diawali melewati rute yang sudah biasa dilewati tapi tetep aja bikin gue ngos- ngosan.

Elly yang settingan carilnya ga bener dan di betulin bang hendri …. ( dah mulai tebar pesona hahahaha nyela mode on hehehe sorry ya bang ) dan istirahat di persimpangan antara buper dan jalur rute ke gede, paling belakang kang budi dan mas dhanis , yg keringatnya dah bercucuran ( sama bang gue bawa daypack aja keringetan ).

Perjalanan dilanjutkan setelah semua kumpul dan cukup mengembalikan tenaga, satu persatu lewat. Gue jalan di barisan depan, dan tiba2 perut gue sakit. Ga enak karena bang hendri dan temen2 masih ada dibelakang gue,gue berhenti nepi di pinggir dan di Tanya “ kenapa berhenti ? “ gue nyengir dan bilang aku mau kentut bang “ “udah sana duluan gue nunggu jalan paling belakang “ lewat bang ori ……. Ketauan gue mo kentut celaan nya dah nonggol satu. …..bang cepot nyengir …gue ga bilang karena dia dah denger apa yg gue kata. Ngloyor didepan gue dan finally gue bebas berexpresi.

Sampai di kali kecil udah pada istirahat lagi maklum jompoers, gue duduk di batu yang miring, nyrosot juga akhirnya, untung bang hendri dan hanung ga liat secara kameramen pendakian kali ini mereka. Jadi jatuhpun bisa jadi celaan.perjalanan jadi 3 group. Group ngacir bang hendri, neni, geri dan elly, group 2 hanung, tanti, asep group 3 titi, kang budi,mas dhanis, bang ori, bang cepot, mas ei .

Sudah mulai narsiz, kameramen ikut narsiz apa lagi yang namanya bang hendri narsis abis dikamera hanung …dengan gayanya yang itu bang, kaki menyilang dan tracking poolnya disebelahnya sama lirikan matanya …busyet……. “gue suka gaya lo bang “ nasis abis ……

Post 1 kita istirahat, bang hendri dah nyela gue karena kebetukan neni adik ketemu gede gue , bang hendri bilang “ dimana-mana kakak pasti lebih jelek dari adiknya “ duar……. Gubrak,,,,,, gue Cuma nyengir doang, dalam hati gue “ awas lu bang diatas tar gue bales hehe “ tapi gue alihin perhatian gantian ngecengin yang lain hehehe ..biar ga abis sama bang hendir apa lagi asep dan bang ori nimpalin …..bisa2 mati gaya gue.

Slow rock dari ipod bang hendri dari fire house mpe g n R silih berganti asyik bang slow rock never die bgt, mengiringi perjalanan dan satu yang gue denger kalo ga salah lagunya GNR november rain secara gue ga di belakang bang hendri mulu takut di cengin hehe

Sekitar jam 11.30 kita sampai di pos buntut lutung,istirahat sebentar dan mamang nasi uduk lewat, bang ori, gue, bang hendri, bang cepot dan asep makan, yg lain pada jaim ga mau makan …..

Perjalanan sampai simpang maleber berjalan dengan banyak celaan, ga tau apa yg dicela , yang pasti dibelakang bang hendri, bang ori, mb titi dan asep udah pasti mati gaya….dicengin mulu, jalan deket bang cepot sama kang budi dan mas dhanis hati merasa lega dan tentram ..kuping juga tidak panas ( halah …… eh tapi bener kan ya bang ) jam 15.30 sudah disurya kencana dan menunggu temen2 yg masih tertinggal dibelakang. Sesaat kemudian semua sudah berkumpul dan melanjutkan untuk camp disuryakencana dan beristirahat.

Perlahan2 kabut tebal turun dan menghambat penglihatan jarak pandang radius 10 meter, jalan beriringan dan yg tampak Cuma bayang2 .sesekali kabut menipis dan terlihat barisan jompoers berjalan di area suryakencana.hore kesempatan untuk tidur sudah didepan mata .setelah melakukan orientasi sebentar akhirnya kita camp di deket air dan langsung mendirikan tenda secara titik air sudah mulai berjatuhan…..

Tak lama 4 tenda sudah berdiri dengan rapi tinggal tenda gue yang ancur2an , alhasil berkat design bang hendri dan bang ori, tenda gue jadi tenda ala lafuma yang punya teras luas dan dibuat DU ( dapur umum red ) thx bang ori dan bang hendri ..seneng deh dimanja ma kalian huehehehehe.

Hujan gerimis berhenti dan masak kopi untuk mneghangatkan badan cukup asyik.

Menginjak jam 7 malam gerimis dah mulai reda tinggal titik2 air dari kabut yang masih meneteskan di cover2 tenda kita.

Nah terbagi menjadi 4 tenda dimana gue, asep dan neni menempati tenda paling barat , selanjutnya tengah bang ori, bang hendri, mb titi dan mas ei ( jompoers ngumpul ) depannya tendanya kang budi, hanung, mas dhanis dan gery, samping nya tendanya bang cepot, sama elly. Saling berhadapan Cuma tenda gue aja yg kebuka lebar ke arah gunung gemuruh…..hmmm….. ada samothing wrong yang membuat gue kabur ke tenda kang budi, secara neni dan asep dah mulai leyeh2 sama sleeping bag nya , gue yg dimulut tenda ngadep gunung gemuruh ……dan akhirnya gue hijrah ke tenda kang budi yang Cuma ada hanung, gerry dan mas dhanis, alasan gue klise bgt Cuma mo minta permen blaster yg sebetulnya melarikan diri hehehe.

Tenda bang hendri rame sekali sambil masak makan malam, gue pake sleeping hanung yg baru dibeli , ( sorry nung gue yg pake duluan tuh SB ) dan ga lama gue balik ke tenda karna asep juga dah balik yg hijrah ke tenda bang hendri.

Malam itu sepertinya pada capek, gue buru2 masuk SB dan bobo, karna rencananya jam 05.30 mau summit attact mengejar sunrise szttt..szzzt…..go to dreams lagi.

Day 2 05.00 4 November 2007
Jam 05.00 terbagun neni, yg dah terjaga dari 30 menit sebelumnya, ngintip dibalik tenda ternyata kabut tebal menyelimuti puncak, tenda tetangga sebelah Tanya suara bang hendri ato bang ori “ mau jadi summit ga niy bu ketua “ melihat kondisi seperti itu kayaknya niat summit attact ga jadi dan kebetulan temen2 yg lain ga ada suara yg dianggap setuju tidak jadi summit. Jam 06.00 sudah terjaga dari pelukan sang malam dan melihat kabut yang mulai menipis, membuat sarapan. Dan narsis pun diawali di pagi itu.ganti baju dan keliling sekitar tenda , hawa yang dingin membuat enggan meleas jaket dan kaos kaki.. duh duingin bro….tapi incaran cameranya hanung membututi gue kemanapun gue melangkah ( sorry all kalo ada yg cemburu gue Cuma jadi bahan uji cobanya hanung hehe ) dan tak kalah bang hendri menset para wanita perkasa untuk jadi model nya. Bernarsis ria ala bang hendri dan hanung menyita wakyu sampa jam 07.30

Jam 08.00 mulai packing untuk ke puncak gede dilanjutkan turun ke kandang badak dan bablas sampai cibodas.perjalanan menuju puncak gn. Gede sekitar 30 menit. Sampai dipuncak tidak dapet view yang bagus, puncak diselimuti kabut tebal, rupanya sang mentari enggan menampakkan secercah cahayanya pagi itu. Any way walupun sang mentari tidak menampakakn diri dari peraduannya tapi temen2 bahagia sudah melewati tahap ini dimana klimaks dari pendakian kali ini adalah puncak gede. Berjabat tangan dan memberi selamat satu sama lain. Gue peluk mb titi secara pendaki kawakan yg baru kali ini naik gede hehehe (tul kan mba ti ? ) tidak lama dipuncak karna hujan mulai turun akhirnya perlahan2 kita meninggalkan puncak itu.

Kandang badak jam 12.30 hujan masih belum kunjung reda, temen2 terpecah2 menjadi beberapa kelompok, sampai akhirnya tiba dikandang badak yang ramai pendaki yang lain untuk berteduh, terlihat cowo dengan kaos hitam dengan sarung bergaris2 membawa termos, ber kata “ hehehe welcome dring niy …” ternyata bulux sudah menyiapkan kopi hangat dan nasi bungkus buat kita hehehe asyiknya ( thx lux buat welcome drink nya walau lo ga ikut ke puncak tapi lo berari buat gue ) ngasih makan dan minum nya maksudnya …..

Setelah beberapa menit istirahat dikandang temen2 melanjutkan perjalanan, perjalanan begitu berat, badan capek ditambah hujan dengan beban yg tambah berat karena daypack gue basah …akhirnya sampai di pos 2 dan air panas, di tempat ini mungkin biasanya pengen cepet2 lewat karna cipratan air panasnya tapi kali ini berbeda seperti mandi sauna yg abis keguyur hujan dari puncak terobati di air panas ini selain itu depan kita ada pendaki lain yang masih menyebrangi batuan licin dan percikan air panas itu.

Setelah melewati air panas jalannan landai dan turunan sampai di pos 1 , bertemu beberapa pendaki, mendekati pos 1 ada seorang pendaki yg menyampaikan pesan kita ditungguin amsi di pos 1. beberapa menit akhirnya ku gapai pos 1 artinya tinggal satu langkah untuk sampai base camp. Cukup lama istirahat di pos 1 dan karna hujan juga tak kunjung rda akhirnya perjalanan tetap dilanjutkan.

Jam 16.30 base camp Montana dah di depan mata artinya perjalanan kali ini dianggap finish, sambil menunggu yang lain. ..istirahat sebentar dan langsung ke pos Montana. Bersih2. hujan makin gede hingga kita ga mungkin turun basah2an lagi. Jam 20.00 kita turun dan menunggu angkot yang tak lama muncul. Sebelum kembali ke Jakarta kita makan indomie rebus di pertigaan cibodas. Dan kaget dengan bantingan HP nya bang hendri yang ujung2nya tamat riwayatnya itu.

Jam 21.30 kita kembali ke Jakarta dan jam 11.15 kita sampai di kp rambutan tempat meeting point sebelumnya. Dan kembali ke rumah masing –masing. –Tamat - JJ


Special thanks to : orang tua yang dah ngijinin walau cuaca sebenernya ga mendukung. Buat bang hendri untuk shere dan dendeng celengnya ( ga masalah bener ato ga yg pasti kalo tidak tahu ga dosa kan ,,,,? * just kidding bang ) buat bang ori yang juga banyak shere di sela2 perjalan, bang cepot untuk foto berduanya , hanung yg perhatian sama gue bukan gue yg minta kalo 2 Gb dari memory cam lo 60% buat gue thx, neni adik kecilku yg imut yg bikin gue dicengin sama bang hendri, mas dhanis yg gue salutin secara bawaan banyak badan gede tapi kuat bgt. Mb titi yang baik dan menemani narsis, kang budi yang udah menemani perjalan ini lebih mantaf & base camp montananya, asep yg selalu ada disamping gue kemana gue pergi, gerry temen baru gue, elly yg imut thx , ma ei yg pendiam tapi gue cengin maap ya bang bukan maksud hati hehe, buluk yg dah siapin welcome dring dan amsi yag dah nungguin kita

Ketika puncak gunung sudah tidak ada lagi

Oleh : Mbok Ju

Jum’at, 12 Desember
05.30am Aku terbangun oleh nada sms dari pak Kusworo rahardian yang mengabarkan ramalan BMG mengenai cuaca dan kecepatan angin dalam 2 hari ke depan yg berlaku hampir merata di seluruh pegunungan Jawa,30-40 knot per jam.“aduh apa ini maksudnya”

Sore ini hujan, tapi tidak membuatku berfikir sedikitpun untuk mengurungkan niatku mendaki.Kali ini tujuanku masih belum beranjak dari wilayah kecil yang banyak orang menyebutnya Jawa Barat,adalah Duo Tracking untuk Gunung Cikurai dan Solo Tracking untuk Papandayan… yah itulah tujuan awalnya.

Jam 09 malam aku meluncur ke terminal Kp Rambutan, setelah aku cek ulang semaua alat pendakian dan logistik yang akan aku bawa,Hujan…,aku menuggu adiku sekar laras yang akan menjadi partnerku satu2nya dalam perjalanan kali ini.Tak harus menuggu lama, sekar datang dengan keril 75lt nya, weleh weleh bener2 wanita perkasa.
Tanpa buang waktu aku langsung menuju bis yang akan memabawaku ke Garut, tepat jam 11.00 bis berjalan,fasilitas televisi yang ada dalam bis sedang menayangkan film komedi dono, lucu juga,lumayan lah buat hiburan dari pada liatin sekar yang dah mulai merem melek, ngantuk banget keknya.

Sabtu, 13 Desember
Pagi , jam 03.30am sampai juga di terminal Garut,sambil menunggu matahari muncul yang juga di barengi munculnya angkot2, aku dan sekar istirahat di mushola kecil depan terminal sampai sekitar jam 5.30 pagi, lalu sarapan nasi kuning,ambil gambar dan …. Hadoohh lama banget nunggu ankot warna biru putih, waahh tapi bagus juga nih pemandangan di sekitar sini, gunung Cikurai menjulang sempurna, gunung Papandayan juga terlihat jelas,Hmm udara yang dingin dan lingkungan sosial yang jauh beda dari kota Jakarta membuat aktifitas menungguku menjadi menyenangkan.
Ahirnya yang aku tunggu datang juga, angkot membawa kami ke desa Cikajang, perjalanan lumayan jauh dengan tarif angkot 6000rupiah perkepala, pemandangan hijau di sepanjang jalan cukup membuat mataku melek setelah semalaman susah tidur gara2 ngopi di terminal.tapi ya sekali lagi partnerku selalu dalam kondisi merem pas aku pengen ajak bicara, sekar tidur lagi…..huuuhhh

Tiba di pangkalan ojek jam 8pagi, ga perlu lama tawar menawar karena sepertinya tarif ojek menuju pemancar sudah di patok 20.000 rebu untuk para pendaki, jalanan bebatuan dengan motor trill bikin hatiku berdetak kencang, tibalah aku di pemancar di rumah bu enok, ramah. aku packing ulang, pake sun block dan pasang geither.. siap jalan.

Cuaca cerah,
Melewati perkebunan teh, lahan pertanian dan dari sinilah sadar banyak jalur menuju batas lahan pertanian. Bincang2 dengan beberapa petani yang sedang menanam kmudian kami pamit untuk melanjutkan perjalanan.12.am sampai di batas vegetasi, melewati sungai kecil. Jalur awal yang cenderung landai, basah, dan licin mulai kami rasakan.1-2 jam pertama..
Kabut mulai turun, tanjakan mulai terjal, banyak pohon tumbang, semak basah berduri dengan pijakan tanah yang semi gambut,seketika adrenalinku terpacu kencang saat tapak2 bentuk segitiga meruncing sangat jelas tercetak di atas tanah basah, sepertinya aku mengenali pemilik telapak kaki itu, yaps babi hutan,tapak kaki yang masih sangat baru menunjukan pemiliknya baru saja melewati jalan ini. Hujan mulai turun, yang ada di hadapanku adalah semak belukar yang menutup rapat jalan, hujan makin deras, aku harus merayap dan menaiki pohon2 tumbang yang banyak berserakan untuk melewati jalur ini,ku selipkan pisau commando di pinggang, sekar asik dengan selang hydropack untuk mengusir haus,,makin lama hujan makin deras, angin kencang sampai pergerakan pohon terdengar jelas, kami terus naek dan terus naek.. raincoat ternyata tak mampu melindungi kami dengan sempurna, tak terasa badan kami basah kuyup, jalan makin samar hanya ada semak dengan jalan bayangan yang berdiri terjal di depan kami,tak ada pilihan laen, tak ada jalan laen.. kami merangkak menaiki tebing dan hanya bergantung ama ranting pohon, akar2 dan batang kayu dengan beban keril 45lt di pundaku.

Jam 4 sore, langit sangat gelap, petir, jalur mulai abstrak sampai mentok di bawah tebing setinggi 6 meter ada jalan yang sepertinya tak sanggup kami lalui karena begitu tegak, disamping badai yang mulai menggila, kami putuskan untuk cari tempat agak lebar dan dan sedikit jauh dari tebing, badanku mulai menggigil, basah kuyup dan kondisi sekar juga sama ahirnya kita ngecamp di ketinggian sekitar 2600mdpl, sebisanya aku dan sekar mendirikan tenda di tengah lahan yang sempit dan terpaan angin, tenda pun berdiri, aku masukan keril dan save self untuk menghindari hypo saking dingin dan lelahnya sore itu..kami pun masuk ke tenda dan sangat nyaman melihat kondisi luar yang jauh berbeda.. aku minum suplemen penghangat untuk menambah suhu tubuh,tentunya setelah semua baju aku ganti dan sekar jg, alunan music dari HP ku mengalun pelan seiring matahari yang perlahan mulai menghilang membawa pergi seluruh cahayanya…sepi....

“Tiba saat mengerti, jerit suara hati..letih meski ku coba melabuhkan rasa yang ada, mohon tinggal sejenak, lupakanlah waktu , temani air mataku.. teteskanlah lara, merajut asa, menjalin mimpi, endapkan sepi-sepi……..” potongan lagu semakin membuat anganku melayang jauh ke sebuah tempat dimana cintaku terdampar, bahkan di negri antahberantah seperti ini pun otakku tak sanggup menolak semua ingatan tentang dia.

Jam 7pm, dihari yang sama,
Secangkir jahe susu mengahangatkan tubuh kami, roti tawar dengan keju mengenyangkan perut kami, mencoba tidur dengan SB yang kami bawa sendiri2,kaos tangan,kaos kaki menambah kehangatan diantara rimba sunyi cikuray.
Entah berapa kali ku bolak balikan badan ketika tengah malam terdengar suara babi hutan melewati tenda kami, pengen bangunin sekar tapi sepertinya sekar sedang pulas dengan mimpinya yang telah mendahului mencapai puncak..biarin aja lah.. aku berdoa tak henti2, diluar masih hujan.. suara itu perlahan berlalu,legaaa sekarang, akupun tertidur.

Minggu, 14 Desember
05.00am terbangun.. diluar hujan sudah berhenti, embun pagi begitu bening menyambut kami, skilas tampak G Papandayan begitu anggun,meliuk2 seperti ular yang sedang birahi, kuputuskan pagi ini untuk mencari jalan ke puncak sendiri sementara sekar menyiapkan sarapan pagi. Wah tak lama berjalan sepertinya memang buntu, hanya ada jalan turunan yang bukan di jalur kami naek kemaren.,aku kembali ke tenda, kopi panas telah di siapkan sekar buat aku,juga sarapan sop baso, tempe bacem ama ikan ,wuih sekar jago masak nih… kami pun sarapan dan memutuskan untuk turun dan pulang.karena waktu kami terbatas dan harus segera kembali ke Jakarta.

09.30am packing selesai, turun, sekar menilik jalur kearah utara, 15 menit berselang mata kami tertuju pada sebuah pohon dengan potongan kain melilit di batangnya. “Sekar… ini jalur ke puncak” teriak ku
“Mbak kita coba naek, tinggal keril dulu di sini, sepertinya puncak sudah dekat” kata sekar. Lalu kami lepas keril dan kami mulai berjalan mengikuti tanda di pohon. Girang bukan main setelah 30 menit mendaki kami melihat tanda panah dari papan orange menunjukan jalan kepuncak,jalan mulai landai, sepertinya kami melihat jalur normal yang menuju ke bawah,, mungkin itu jalur yang biasa di lalui para pendaki” batinku.

1.5 jam an kami lewati sampai sekar berteriak menunjukan sebuah bangunan berukuran sekitar 2x2m “itu puncaknya” kami berjalan bergandengan menuju bangunan yang sepertinya terdapat bekas pondasi pemancar yang selama ini menjadi patokan untuk puncak Cikuray… kabut mulai turun, kami tak bisa melihat pemandangan dari sini. Hanya 5 menit kami singgah,hujan perlahan turun,semakin deras dan semakin deras, kami berlari menuju tempat dimana kami meletakkan keril, kami melewatkan sebuah tanda yang membuat kami kehilangan arah.. telah jauh kami turun,hujan lebat disertai angin dan petir, “ sepertinya kita melewati jalur yang salah” kataku “aku tadi melihat tanda di atas sana” kata sekar.Memang ada banyak sekali tanda penunjuk arah tapi ada satu tanda di persimpangan yang menjadi petunjuk arah letak keril kami, “kita sudah melewati terlalu jauh” kataku “Soalnya tadi saat naek lumayan banyak tanda dan tanda terahir sempet bikin aku erkecoh,persimpanganya juga mirip2,ya sudah kita naek lagi temukan tanda itu, dan pulang “kata sekar.Ditengah hujan dan kondisi basah kuyup karena raincoat ku jg punya sekar tak mampu menangkal masuknya air ke pakaian kami..waktu semakin sore, kami membabi buta untuk secepat mungkin turun, dengan kondisi tanpa keril dan penerangan, kehilangan matahari adalah ancaman. Beberapa kali aku terjatuh karena jalan licin dan terjal, juga sekar yang sering kali terpeleset dan terjepit di antara pohon tumbang.tangan kami lecet dan tergores duri juga akar2 yang kasar,karena kaos tangan yang basah semakin menambah dingin suhu badan kami jadi kami lepas.1.5jam berlalu sampai ahirnya aku temukan tanda sebagai penunjuk letak tas keril kami, kami pun menuruni kembali jalur itu dan menemukan keril, dengan sisa2 tenaga kami angkat dan mulai menuruni jalan untuk pulang. Kami ada di jalur normal sepertinya, hujan turun dan badai mulai datang lagi, kami tak sanggup melanjutkan perjalanan karena jalur berkabut tebal dan angin besar menyulitkan kami melangkah. Kami mencari tempat agak lapang dan mendirikan tenda lagi dibawah pohon besar, mungkin keputusan kami salah, tapi kami tlah siap mengambil resiko terburuk untuk nge camp lagi dari pada jalan merangkak dengan resiko terkena Hypo karena kedinginan.

Tenda pun berdiri, kami aman dengan sisa pakaian yang agak lembab dan logistic yang masih ada, sekar menyalakan HP dan entah siapa yang dia hubungi, tapi apapun itu tak merubah kondisi kami di alam,sisa gas masih bisa menghangatkan susu jahe yang kmi minum segelas berdua, biscuit coklat dan regal mengisi perut kami.
Ku genggam kompas , “kenapa kau tunjukan arah yang salah” batinku yang ingin melempar kebodohanku ke benda kecil ini.. dalam keheningan sejenak, kurenungi segalaanya,sunyi….
“Ku coba memahami tempatku berlabuh, bersandar di keruhnya satu sisi dunia, hadir di muka bumi tak tersaji indah, ku ingin rasakan cinta……..
Petikan lagu mengiringi jiwa lemah ku yang perlahan terlelap.

Semalam berlalu, mimpi mengantarkan aku pada pagi hari di hari senin.cuaca cerah, seperti wajah sahabatku yang juga mulai berkemas untuk turun. Sambil packing aku dan sekar saling lempar ejekan, tujuanya bercanda tapi hari ini kami benar2 telah mendapatkan pelajaran luar biasa pentingnya tentang alam,kedamaian, ambisi,egoisme, kepuasan dan arti pentingnya sebuah persahabatan. Perjalanan turun hampir tak ada masalah, kami bertemu dengan pak dede yang merupakan ketua pemuda desa ini, kami diajak mampir ke rumahnya,di rumah yang sangat sederhana kami di beri jamuan sarapan pagi oleh istri pak dede.kami packing ulang. Pak dede sempat menanyakan bungkusan tas kresek hitam besar yang aku bawa dari atas. “ini isinya sampah, pak”jawabku “wah coba semua pendaki kaya kalian, pasti cikurai bersih”tambanya
Sempet nyengir juga pak dede bilang gitu. Di luar cuaca mendung, pak dede membantu kami untuk memesan tukang ojek yang akan mengantar perjalanan pulang kami sampai di desa Cikajang.tak lama kami menaiki angkot sampai di terminal Garut, dan naek bis AC ke Jakarta tepat di jam 4.30pm, sejak dari desa Cikajang hujan tak berhenti. Tapi kami sangat nyaman dengan sejuta cerita petualangan yang baru kami alami..
Sampai ketemu lagi Cikuray, liuk indah ragamu akan slalu aku kenang karena aku akan kembali lagi untuk bercumbu dengan alam mu, s o m e d a y…..

Mbok Ju
“dengan segala kekuranganya”

Special Thanks to:
Alloh SWT, yang telah memberi segala kenikmatan hidup lebih dari yang aku minta
Ayah dan mboke, maafin anakmu ini yang slalu pulang dengan baju kotor
Laras Sekar, You are the best partnership of the year hehehe.. kamu hebat nduk!!
Hendri Agustin, Io sogno la montagna,ma sopratutto io penso al mio amore
Pak Kusworo Rahardyan, untuk bimbingan, info, semangat dan segala sharing ceritanya
Hikam, untuk kepercayaan,dukungan dan doa2nya
Bang Nanda, Kong Farid untuk persahabatan,doa dan supportnya
Temen2 milis dan komunitas di luar milis, Thanks for all

Gunung Salak vs Buah Salak

Oleh : Kiskie
"10 menit lagi!," kata Sang Pemandu.
"10 menit lagi," ulangnya. "Ini Pos 6, Puncak adalah Pos 7. Ayo 10 menit lagi, 1 pos lagi."

Gemerlap sesaat di hati salah seorang gadis yang berjalan terseok-seok di belakanganya. Seperti kembang api di langit malam, disulut dengan cepat, berpendar membelah udara, lalu padam dan kembali pekat. Pendaran itu pergi secepat datangnya. Seperti itulah efek dari kata penghiburan tersebut, melintas sejenak di benak, kemudian padam digilas realitas logika.
"10 menit dari Hongkong??!," namun teriakan itu tidak pernah keluar dari mulut si gadis, hanya tertahan di ujung lidahnya, tabah dengan keyakinan bahwa semua jalan pasti berujung. Carrier kembali dipasang, otot-otot dipaksa meregang, selangkah demi selangkah mereka kembali menyusuri jalan, yang sudah diketahui bahwa 10 menit tersebut adalah mengacu pada 10 menit Waktu Indonesia Bagian Hongkong, alias omong kosong.

Sebelumnya di Pos 3, Kiskie bertanya, "Berapa pos untuk sampai ke Puncak?".

"Ada 7," jawab Tri, Sang Pemandu.

"What? Ga ada yang lebih sedikit apa?," timpal Mindo.

"Hush! Ga boleh ngomong gitu Ron!," Tri Nampak serius.

Kiskie membatin, apakah Tri yang kehilangan selera humornya ataukah memang itu ucapan tabu yang harus dihindari? Akhirnya dia menyimpulkan sendiri dalam hati, bahwa kakaknya, Rona Mindo Rysa, tidak terbersit sedikitpun untuk bermaksud meremehkan perjalanan ini, bahwa dia hanya berkelakar. Dan Sang Pemandu, Tri, hanya mengikuti nalurinya sebagai pemandu, yaitu mengamankan perjalanan dengan kehati-hatian penuh. Itu saja. Sementara itu, anggun dengan diam, berdiri dan memandang, di sana adalah Budi, Sang Sweeper yang hanya mengamati. Peaceful.

Pos 3 ini adalah pos terakhir untuk pengisian persediaan air. Ada pipa air dengan limpahan air di dalamnya yang berbunyi mengusik. Di sini, perbekalan air dipenuhi, karena selama perjalanan ke depan tidak ada lagi mata air yang tersedia.

"Ayo Kie, 1 pos lagi dan kita akan sampai di Puncak. Setelah itu kalian goreng-goreng dan masak. Ntar gue turun jemput Budi. Ayo 10 menit lagi," Tri memang tak pernah kehabisan kata-kata. Saat itu Kiskie, Mindo dan Tri telah sampai di Pos 6, meninggalkan Sang Sweeper di bawah yang berjuang melawan kram kakinya.

"Bagaimana Mas Budi? Kasihan dia sendirian dan kakinya sakit.

Kita tunggu dia di sini," Kiskie berbicara, lebih kepada dirinya sendiri, bukan pada Tri. Air hujan menetes-netes dari ujung topinya, sambil mengucapkan itu, dia mengamati tetesan air bening kecil yang telah melembabkan segala yang dia kenakan. Dia berdoa agar semangatnya tidak ikut menetes keluar seperti air ini.

"Tidak, kalian tenang saja. Gue percaya Budi. Dia baik-baik saja.

Dia tahu harus bagaimana. Pesan dia ke gue adalah `bawa mereka ke Puncak'. Ayo makin cepat kalian

sampai, makin cepat gue turun jemput Budi," jawab Tri.

"Dia benar Kie, kita harus sampai puncak segera," kata Mindo.

Ya, aku tahu dia benar. Oh Tuhan, aku yakin semua jalan di dunia ini pasti berujung. Batin Kiskie.

Seandainya mereka semua tahu, bahwa Kiskie hanya menginginkan perhentian sejenak, sebentar saja. Dengan menunggu Mas Budi, dia berpikir dia akan bisa beristirahat sebentar. Kadang memang demikian pattern manusia, menyembunyikan hasrat pribadinya dengan mencari-cari dan memunculkan segala pembenaran yang masuk akal. Sang Pemandu tetap melesat. 2 gadis merayap. Seorang kawan mereka di belakang, tak terlihat di antara rapatnya hutan dan belokan jalan, berjuang melawan kram otot kaki.

Salak, tentu saja tidak hanya sekedar nama.

Kiskie, setidaknya, telah sampai pada kesimpulan bahwa Gunung Salak, memang seperti buah salak. Buah salak, kecil, tertutup kulit coklat bersisik rapat, daging buah padat tapi lembut bagi gigi, dan akhirannya adalah manis bagi indra pengecap. Gunung Salak, kecil (2211 mdpl), tertutup pohon-pohon hijauc-coklat lebat, akar-akar dan batu-batu adalah sisik-sisiknya yang semakin ke atas semakin meruncing, tanah lembut menjurus lumpur bagi kaki, dan akhirannya adalah elok bagi indra penglihatan. Yah, kira-kira seperti itu. Ilustrasi itu sudah cukup menggambarkan.

Jalur yang mereka lewati adalah jalur Cimelati. Konon jalur ini adalah yang paling cepat dibandingkan jalur-jalur lainnya. Perjalanan ini adalah perjalanan `tertarget', jika bisa dibilang bukan perjalanan santai, karena itu dipilihlah jalur yang paling cepat, yaitu Cimelati. Tanggal 25 Des jam 2 pagi dini hari, mereka mulai menapaki hutan pinus, berjalan sekitar 1 jam terus menyusuri arah kiri, mereka sampai di tanah landai Pos Bayangan 2. Di sini membuka tenda istirahat darurat, gelisah dalam tidur singkat, bangun sarapan secepat kilat, packing dan kembali menapak jam 7 pagi saat udara mulai menghangat. Tertanam kuat di pikiran masing-masing, bahwa tanggal 26 pagi, semua kaki-kaki harus sampai di jalan beraspal lagi.

Apakah buah salak ada ulatnya? Mungkin ada jika buah itu busuk. Apakah Gunung Salak ada pacetnya? Tentu saja ada, terutama di musim penghujan.

Dan di musim penghujanlah kesempatan mereka bisa berkunjung sebelum ditutup selama 1 bulan untuk pemulihan ekosistem mulai 1-31 Januari 2009. Mindo punya pengalaman tersendiri dengan pacet, dia bisa saja melompat ke siapapun yang tersedia di sekelilingnya jika menjumpai si kecil penghisap darah itu. Kiskie bukan lebih berani dari Mindo, tapi dia puas bahwa semua pelindung badan termasuk geather-nya berfungsi baik. Meski demikian, dia sempat tersentak kalap sesaat ketika melihat hewan kecil itu menempel di sarung tangannya. Ditepisnya hewan itu dengan gairah berlebihan seolah hewan malang itu akan menghisap semua persediaan darahnya. Jika saja Mindo melihatnya kelabakan seperti itu, tentu dia akan puas tertawa.

"Terus-terus. Ayo terus," Tri selain tidak pernah kehabisan kata-kata, juga seperti tidak pernah kehabisan bahan bakar. Terbuat dari apakah kakinya? Sejak jam 7 pagi tadi, kaki-kaki mereka mulai berjalan, Pos 2, Pos 3, Pos 4, Pos 5, Pos 6, telah dilalui. Dan sekarang, satu tarikan lagi, satu upaya akhir sebelum melepaskan beban.

"Awas licin! Jebakan lumpur! 10 menit lagi," Tri tetap mantap.

"My Godness," erang Mindo,"ini jelas masih jauh," imbuhnya.

Andai aku punya sayap. Batin kiskie. Atau setidaknya, `tunggangan bersayap', seperti Nazgul dalam kisah The Lord of The Rings, atau seperti Eragon yang memiliki naga terbang bernama Saphira, atau seperti Ping yang memiliki naga terbang bernama Long Danzi. Semua itu hanya kisah fiktif, tentu saja. Kenyataannya, yang dimilikinya adalah sepasang kaki, sepasang tangan dan sepasang mata, yang
semuanya rindu kenyamanan tidur.

Akar demi akar, batu demi batu, lumpur demi lumpur, pohon demi pohon, daun demi daun..

Tanjakan, belokan, tanjakan sambil belokan, tanjakan, belokan, tanjakan sambil belokan..

Berapa banyak lagi rumput diinjak, berapa banyak lagi sarang labah-labah diterabas, berapa lama lagi nafas dan kaki bertahan? Sepatu yang semula berat, semakin berat dengan lumpur yang menempel.

Tidak ada jalan yang tidak berujung…

Tidak ada jalan yang tidak berujung..

Tidak ada jalan yang tidak berujung..

Tidak ada jalan yang ti…

"Kie sini, Kie!" Tri memecah sunyi, dia menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang.

"Ada apa?" jawab Kiskie lesu, sambil memaksakan kaki mendekati Tri sekuat kakinya sanggup.

"Sini gih cepat!, gue pinjem matamu, tolong lihat apakah itu warna biru?" Tanya Tri.

Kiskie mengikuti arah telunjuknya ke atas dengan menyipitkan mata, " iyah itu memang warna biru. Seperti atap rumah," jawab Kiskie. Oh Tuhan, semoga ini bukan fatamorgana gurun pasir. Harapnya
dalam hati.

"Berarti itu sudah puncak, di atas sana ada Pondok dan makam. Ayo cepat, kalian bisa masak dan bikin minuman," dengan kata-kata itu Tri melesat pergi. Mindo mendekat, ikut memandang warna biru yang sama. Warna biru itu memang atap Pondok, berbaur dengan warna biru langit yang sejenak bebas dari awan mendung. Kiskie melepas pandangan itu, kembali menunduk ke tanah, menyisir jalan yang tersisa, kembali memanggul carrier yang sebelumnya sempat dibawakan Tri. Show must go on.

Jam 13.30

Pondok, makam, lapangan terbuka, kabut tebal di sekeliling. Sykurlah.

Inilah Puncak Salak I.

Dua gadis duduk hening di lapangan terbuka. Termenung. Pasrah. Sunyi. Damai.


"Hei kalian, cepat masuk Pondok. Di dalam sudah gue bersihkan, kita makan," Tri keluar dari Pondok, lalu membawa masuk barang-barang yang tergeletak sembarangan di lapangan. Kiskie dan Mindo mematuhinya. Mereka membongkar muatan di dalam.


"Ayo masak," kata Tri.

"Kompor Kiskie dimana?" tanya Mindo.

"Di Mas Budi," jawab Kiskie, lalu bertanya,"kompor Mas Tri dimana?"

" Di Budi," kata Tri.

Blaszzt. Ini fatal sekali.

Segala logistic digotong Kiskie, segala peralatan makan digotong Budi. Saat ini Budi terpisah. Bagaimana jika Budi memutuskan camp di bawah dan memulihkan kakinya di sana? Mereka yang di atas mungkin lebih beruntung, snack ringan masih tersedia untuk pengganjal. Sedangkan Budi? Kiskie tidak akan memaafkan dirinya bila sampai membuat kawannya kelaparan. Tri mengurungkan niatnya turun menjemput Budi, karena hujan kembali turun dengan derasnya. Atau dia lebih percaya pada kemampuan Budi dibandingkan pada Kiskie dan Mindo. Dia lebih khawatir meninggalkan para gadis di Puncak daripada membiarkan Budi sendirian di bawah. Apapun alasannya, rasanya semua itu benar.

Seolah menjawab panggilan, Sang Sweeper datang tak lama berselang. Semua yang di sana begitu lega melihatnya. Tak perlu waktu lama untuk kemudian memulai pesta, dan mereka menikmatinya dengan suka cita. Masakan hangat Mindo, minuman hangat susu Milo. Di sana, di dalam Pondok yang dibangun entah oleh siapa, mereka menikmati manisnya `buah salak' mereka.

Hujan turun dengan lincahnya, menambah nikmat dan khidmat suasana. Tidak lama, semua tenggelam dalam mimpi kelabu masing-masing. Kabut menggelayut. Semakin larut, selimut tubuh terlipat semakin kusut, demi mencegah keluarnya panas tubuh, dan menghalau uap dingin yang menjalar menusuk.

Salak I, apakah Salak II sepertimu?

26 Des. Subuh. Sunrise. Sempurna.

Setelah sarapan dan membersihkan Pondok, perjalanan turun mereka dimulai. Para lutut menjadi SaHaBat saat perjalanan turun. Sangat Habis Dibabat. Tidak banyak yang diingat Kiskie dalam turunannya, kecuali bahwa dia bergantung sepenuhnya pada Sang Pemandu selama separuh perjalanannya. Jatuh bangun, berjalan dan berhenti sekejap.

Dalam tubuh manusia, terjadi proses fermentasi atau pembebasan energi, salah satunya adalah fermentasi asam laktat, disebut juga respirasi anaerob, proses ini terjadi di otot. Glukosa yang disimpan dalam otot, disebut Glikogen, mengalami proses glikolisis terurai membentuk asam piruvat dan energi dengan bantuan enzim. Kemudian dengan bantuan enzim piruvat dehidrogenase, terjadilah proses dehidrogenasi asam piruvat yang akan membentuk asam laktat dan energi. Penumpukan asam laktat di otot inilah yang menyebabkan rasa pegal di otot kaki. Benarkah teori itu? Wallahualam. Benar atau tidaknya teori itu, sayangnya, Kiskie tidak membawa obat penawarnya saat dia mengalami suffer itu. Lemas dan gemetar, kakinya tidak mampu menopang berdirinya. Tidak ada lagi cadangan glukosa dalam otot untuk pembentukan energinya. Yang menggerakkan kakinya hanya kesabaran kawan-kawannya, dan ketulusan Sang Pemandu. Hingga akhirnya sampai juga di ujung jalan keluar pintu rimba. Jalan aspal terbentang di sana, bagai pita hitam berkelok mulus. 26 Des siang, kaki-kaki sudah menapaki aspal lagi. Terlambat beberapa jam dari yang diharapkan, namun semua lega dan bersyukur.

Setiap orang berhak menilai apapun atau siapapun menurut timbangannya masing-masing. Tentu saja Kiskie tidak bisa menembus apa isi hati kawan-kawannya untuk melihat apa penilaian mereka, tapi dia membiarkan kawan-kawannya mengetahui penilaian hatinya, yaitu suatu apresiasi melebihi ucapan terima kasih. Baginya, inilah yang sebenarnya dia rasa.

Inilah sebenarnya manisnya daging buah salak itu.

Dianugerahi rekan-rekan yang mampu menghangatkan hati.

Di sini, di belantara ini, mereka semua menunjukkan kualitasnya :

yang tertinggi.


Salak I
25-26 Des 2008
Grateful to My Lord Almighty, Mas Budi, Mas Tri, Kak Mindo