Oleh : Tanti Lestari
Masih seperti tahun lalu surga yang pernah kusinggahi dan semilir angin lembah berhembus menusuk tulang di senja yang sunyi, gurat keperakan di barat terlihat jelas namun terhalang dengan ranting cantigi dan pepohonan di sekitar puncak pangrango,
ku tertatih berjalan sendiri merasakan keletihan namun aku tersenyum bangga, akhirnya aku mampu melewati perjalanan berat ini. Kuncup-kuncup edelweiss yang bermekaran yang menari di terpa angin sepoy-sepoy disenja itu, padang yang luas dan pemandangan yang sangat indah kulihat,subhanallah…edelweiss itu sedang bermekaran dan aku tak mampu berkata lagi.
Jumat malam 22.00 Kp. Rambutan
Seperti biasa tempat ini favoritnya aku untuk bersua dengan temen2ku ketika akan memulai pendakian ini, saling tunggu sebelum kami melanjutkan menaiki bus-bus yang masih setia nongkrong di depan kami. Kami ber sepuluh menuju pangrango, di rambutan ketemu tim cikuray yg sebelumnya aku dan anton menebar bisa dan meracuni mereka tapi tanpa hasil, kuliat mba jenny, devi, mba susi dan adhit yg mo jalan ke cikurai kutinggalkan begitu anton dan heru muncul ( takut diculik ) sesaat kami bersayonara dan kami segera meninggalkan terminal yang masih ramai itu.
Tiba di per3an cipanas, aku telp afan, yang sudah dulu sampai di mang ini, dan telp alvine, kalo kami sudah mendekati sasaran dan segera memporak porandakan kedai cantigi yang rapi dan nyaman.
Sabtu pagi Jam 00.30
“ hallo alvine, kami sudah di per3aan cibodas sebentar lagi sampai di temat mu , btw ada nasi kan disana “ ( halah urusan perut ga mau ketinggalan ) sahut di seberang telp “ ada mba tenang sip ….” Dan tut..tut ….kumatikan telp itu. Kami bergegas naik angkot kuning dan mampir mang idi untuk jemput afan dan tiba di kedai cantigi.
Celingak –celinguk cari yang namanya alvine, seperti apa dia dan dimana dia pekik aku dalam hati, "assalamualaikum, bang alvine nya ada ? “ ku salamin salah satu yg ada disana. “ Mana bang alvine ? dan ga lama sosok tinggi ga tinggi bgt , kurus dan rambut gimbal panjang dengan senyum yang mengembang sambil mengulurkan tangan “ saya alvine “ (oh ini pahlawan kita yg dah bantuin kita ga pake bolak balik buat booking dulu ) perkenalan singkat kami teruskan dengan makan lontong sayur anget dan the panas . kulihat anton dan asep juga iyan sedang asyik ngobrol sama alvine sementara aku, dan heru juga opet dan J , afan memilih diam merapatkan sendok ke mulut dan bunyi kriuuuk saat krupuk mendarat pas di mulut rasanya nikmat sekali malam-malam dan sepiring lontong sayur anget. Nadia yang sibuk ke kamar mandi ( dasar beserwati ) juga jon yang langsung menyandarkan kepalanya di bantal empuk putih dan meringkuk dibalai yang lebar sambil nonton TV ( dasar kebo ) . ga lama alvine menyodorkan simaksi yg titipan kami dan kami isi.
“ bang, bungkus nasi 1 lusin yak …sama the panas 1 saja “ buat dibawa aku meminta nya. Kami sambil berkemas dan rencana naik jam favoritnya 03.00 dini hari. Biar seger dan nyuri start kan bisa leyeh2 di jalur nanti.
03.00 Sabtu dini hari
Setelah berpamit sama alvine and the gank kami meninggalkan kedai cantigi dan siap mendaki, di tengah jalan lupa sebagian blm pada beli air, akhirnya sebelum memasuki portal kami berhenti dan beli air, tinggal anton, heru, nadia, afan dan aku yang diam disitu, selebihnya turun ke jajaran mang idi buat beli air minum. Cukup lama kami menunggu, udara lagi dingin-dinginya mendekati subuh, setelah melihat gerombolan ala kuburan band ( semunya pake kaos item siy ) akhirnya kami menuju pos jaga untuk melapor dan mulai mendaki.
Tiba di pos jaga, terlihat ada beberapa pendaki yang sedang duduk, rupanya meraka juga akan mendaki subuh ini, kami mendekat dan tak lama terlihat itu rombongan temennya heru. Kami berbaur sejenak sambil mendaftarkan diri sebeum akhirnya kami berdoa dan memulai perjalanan ini.
Jam 03.45
Berdoa menyerahkan segalanya kepada tuhan dan kami memulai pendakian, cuaca yang cerah menjelang subuh menjadi teman kami selama perjalanan ini. Kami berbaris mengikuti jalur yang kami lewati dan cahaya senter yang menerangi dan membimbing kami untuk melangkah di plot jalur yang bener, aku tak memakai senter dan nebeng sama asep, kami beriringan dan sesekali bersusulan dengan tim lain yang memulai pendakian yang sama.
Di telaga biru rupanya banyak pendaki yang sedang beristirahat dan camp, suasana pagi itu masih sangat gelap namun keramain para pendaki memecah kesunyian subuh dengan terang temaram dari camp master yang terpancar dari sudut bangunan di telaga biru itu.kami memilih istirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan sampai di pos panyangcangan.
Pos Panyangcangan jam 04.55
Berjalan menuju panyangcangan tak lama, kami sampai jam 04.55 masih dingin dan gelap, di pos terlihat satu tenda dan beberapa pendaki yang entah sudah bangun apa emang ga tidur sedang memasak air untuk menghangatkan badan, aku, asep, heru dan anton tim pertama yang datang, aku duduk bersandarkan caril dan mulai kedinginan, teringat matrasku di lipet di samping caril, tak terasa tangan ini mengulur mendekati matras dan dibukanya, melipat tangan di dada dan memejamkan mata sesaat setelah ku liat J, opet, jon yang menyusul membuka ponco di balik pohon besar di kiri jalur itu, ku lihat adik kakak yang kompak terlelap di ponco sebelahku, sementara iyan, nadia dan affan lari-lari kecil mendekati cibereum untuk ambil air wudhu dan solat subuh, setelah itu kembali meringkel menjadi empat titik seperti rasi bintang. Kami terlelap cukup lama di panyangcangan.
Jam 06.00
Kami meninggalkan pos ini, pos ini masih terlihat sepi, mungkin tim advance ( yg jalan subuh ) sudah meninggalkan tempat ini jauh di depan. Kami memulai pendakian kembali dan inilah seperti hari- hari lalu, jalan terpanjang yang membosankan tapi aku selalu aja mau balik lagi melewati ini. Berjalan beriringan dan akhirnya terpecah dan kembali bersatu ketika ada tanah datar atau sekedar bongkahan bekas tempat istirahat, sesekali meneguk air dan berhenti untuk beristirahat.
Sampai di pos rawa denok kami beristirahat cukup lama, minum dan membuka snack untuk mengisi sarapan kami yang ala kadarnya, sebelum kami melanjutkan kembali langkah ini, kicau burung menemani langkah-langkah kami
Air Panas Jam 09.50
Sampai di pos ini kami beristirahat, hamper 1 jam kami bercengkrama disini, heru dan anton membuka trangia dan masak kopi, sementara opet asyik dengan kameranya buat futu air dengan teknik apa yang gue ga ngerti yang hasilnya bagus deh …( sumpah norak ) dari pos ini tumben bgt punggungan di sebelah terlihat jelas dan dibawah terlihat tatanan apik yang terlihat kotak-kotak putih berjejer dan membentuk sebuah barisan dikejauhan sana ( mungkin sisi lain kota cianjur ) dibalik bukit itu indah sekali, menikmati riak dan uap air yang mengalir rasanya mengalihkan pandangan buat kami untuk melanjutkan sampai kandang badak.
“ jalan yuk …biar kita bisa makan siang di kandang badak “ sambil aku beridiri mendekati carilku yang tadi kusandarkan di sudut pos, setelah berkemas kami kembali melanjutkan perjalanan yang sudah mulai menajak tapi mendingan ga panjang sepeti dari panyangcangan tadi.
Kami beriringan selangkah dan berulang meninggalkan air panas, sesekali terhenti dan beristirahat, rasa kantuk sudah menjalar di kedua mataku, mungkin juga yang lain, aku ga tahan ku biarkan matrasku terbuka lebar dan terbaring di sisi jalur, “ gue tidur dulu yak ..sumpah ngantuk bgt, lo duluan aja “ kata ku kepada yang lain, sekilas aku masih mendengarkan suara brug…bgrug… suara sepatu mendekat dan pendaki lainpun melewatiku. Terlihat asep yang yang masih duduk rapi disampingku dengan sebatang rokonya . perlahan anton muncul dan ikut duduk ( ngapin ton …? Capek juga apa nemenin gue ? ) setelah terlelap cukup lama aku terbangun kuliat anton dan asep masih duduk di tempat itu dan akhrinya kembali melanjutkan perjalanan ternyata kandang badak tak jauh dari tempat ku tertidur.
Kandang badak 12.35
Sampai juga akhirnya di tempat ini, riuh pendaki yang bermalam disini atau sekedar beristirahat sebelum melanjutkan kep uncak gede atau pangrango. Kami beristirahat target kami jam 14.00 kami kan melanjutkan ke puncak pangrango, dan disini lah kita akan makan siang.
Afan yang polos dan baru pertama kali naik gunung terlihat sangat antusias dan bertanya “ mana kadang badaknya mba “ sambil mengacungkan telunjuk jari kearah bangunan yang udah usang itu ku tunjuk kan kalo itu yg dinamai kandang badak. Sesaat kami beristirahat terdengar suara pendaki yang kecapean dan tertidur pulas yg ngorok, dan affan kembali berucap “ suaranya seperti badak di kandangnya “ spontan tertawa riuh menggelegar apa lagi yang namanya anton dan asep.
Opet memulai membuka carilnya dan mengeluarkan cumi dan tempe malang ( beli dimalang bener apa di mana cak ..? ) makan siang dengan tempe goring dan tumis cumi. Kami memulai memasak. Bau harum bawang yang ditumis membuat aku semakin lapar dan setelah semuanya selesai kami makan bersama, hanya anton dan heru yang lebih simple makan nasi ditambah mie + kornet . ( iya ton gue tau bgt lu males nunggu lama –lama to …? )
Setelah berkemas dan jam 14.10 kami meninggalkan kandang badak dan berjuang melewati pohon tumbang, melangkah atau merunduk yang kami lalui dangan caril dipunggung. Huwaaaaa ……berat boo tapi yg beruntung aku dan anton, jatah bawa caril hanya sampai kandang badak, selebihya asep dan heru dapat bagian.
Cuaca tak terlalu buruk, hanya mendung dan sedikit kabut jenuh turun, aku berisiap memakai celan raincoat. Setelah setengah perjalanan rupanya hujan turun, bersyukur tidak deras tapi jalur makin licin dan harus berhati-hati melewitinya. Kami beristirahat dikala menemukan tanah datar dan hihahihi top bgt jalurnya.
Semakin sore semakin gelap dan udara terasa begitu dingin, “ udah mo sampe belum yach “ nadia yang bertanya , pokonya kalo sudah lewat tanah merah dan sedikit datar kita mendekati puncak itu kata anton. Dan bener siy walaupun sempet beberapa kali fatamurgana dan bertanya-tanya kok ga sampe- sampe perasaan waktu itu hanya sebentar ( ya iyalah wong ga bawa caril )
“udah jam berapa nih “ kutanya J yang ada di belakang ku “ jam 5 kurang “ oh …bentar lagi kali yah 15 menit apa setengah jam lagi sampai. sadari tadi kalo ga 15 menit ya 30 menit yang ada diotak kami sampai 15 dan 30 menit yang keberapa niy afan dan nadia yang baru sekalinya kesini , pokonya sebelum magrib mudah2an kami sudah di mandalawangi.
Perlahan dan terus akhirnya kami sampai di titik yang anton sebutkan, jalan lurus agak dan berbelok ke kanan dan rata itu mendekati puncak pangrango, aku berjalan terpisah dari yang di depan iyan, nadia, asep dan heru sementara dibelakang masih ada opet, j, afan dan anton …..ku lari-lari kecil mengejar sunset yang akhirnya perlahan mulai tidak tampak lagi, disusul afan yang ada dibelakang ku “ liat fan …itu gurat-gurat sunsetnya keren bgt, tapi sayang ga jelas dari sini “ kutunjukkan awan kuning di sebelah barat itu “ iya mba bagus emang dah sampe puncak yach …..” tak lama kami sampai di puncak pangrango. Dan ku tunjukakan tempat gie suka menyendiri, dan gubug yang dah bolong2 dan reot itu pas bgt buat melihat puncak gede yang terlihat gigiran kawahnya dan asap mengepul tampak jelas kalo lagi cuaca bagus.
Masih binggung melihat sekeliling, afan ku tarik ke mandalawangi menyusul yang lain, butuh waktu 8 menit untuk sampai di mandala wangi dan ini lah mandalawangi yang kurindukan.
Kuncup edelweiss yang sedang mekar dan terlihat putih bersih menghiasi pohon-pohon tua yang bergerombol membemtuk barisan yang rapi. Alhamdulilah akhirnya sampai di sini. Kuliat jam menjelang magrib jam 17.40.
Mandalawangi dimalam hari
Susul menyusul akhirnya tim berkumpul di tempat ini dan meletakkan caril yang menjadi beban dipunggung, kami saling membantu dan dalam sekejap tiga tenda berdiri rapi, ( eh gue ga bantuin ding Cuma pgn cepet masuk tenda ) setelah tenda rapih kami beristirahat dan ganti baju juga mulai masak makan malam. Menu dari opet sayur sop ikan asin goreng tepung, tempe . yang masak opet dibantu qjon, aku hanya bantu doa dari tenda bersama j dan asep yang meringkel di balik sleeping bag nya yang setengah caril.
Jam 19.00 kami makan malam dan membenahi tenda dan merapikan fly sheet . kami masih bercanda sampai larut sampai akhirnya kami tertidur ditenda masing-masing. Anton, heru dan afan ada di belakang tendaku, sementara iyan, jon dan nadia juga di tenda sebelah, sementara tendaku berisi aku, asep, j dan opet ( hehehehe ga bisa bolak-balik ) pas bgt untuk ber4 .
Kami tertidur di pelukan kabut malam yang dingin dan di temani irama jangkrik- jangkrik malam yang sahut menyahut serta sesekali desiran angin lembah menerpa fley sheet. Kulalui malam ini bersama para sahabatku di lembah mandalawangi. Berharap pagi segera tiba dan cuaca cerah.
Minggu jam 06.30
Ku terbangun dari tenda, kaget suara bantuk-batuk ditengah2 kami, aku pikir siapa yang sepagi ini sudah di mandalawangi, setelah melihat keluar ternyata anton yang sudah tadi terbangun dan menikmati pemandangan cerah di pagi hari, ku susul dengan membawa camera, kulihat gunung salak terlihat jelas dengan sedikit awan yang membentuk garis horiontal diatasnya.
Dalam hening pagi yang cerah kami terbagun dan bercengkrama , beberapa orang terlihat yang tiba di lembah ini, kami mulai memasak untuk sarapan sebelum kami packing dan narsis sejenak di lembah ini.setelah sarapan kami packing dan berfoto., jam 11.30 kami mulai turun.
Perjalanan Turun tercepat
Kami meninggalkan mandalawangi dan kembali ke puncak pangrango dan berfoto ria cukup lama, hampir 30 menitkami berada dipuncaki tu dan menikmat i pemandangan cerah disinga itu, terlihat dengan jelas gigiran kawah gunung gede yang terbentang terlihat berlapis-lapis dan langit biru diatas pohon yang meranggas dipucak itu terlihat cukup indah, kami satu persatu berfoto dengan gaya masing-masing.
Perlahan aku mulai meninggalkan puncak jam 12.30 menuju kandang badak, yang terlintas dipikiranku hanya beristirahat cukup lama sisana tiduran dan makan siang, sehingga perjalanan turun cepat sekali, ku tinggalkan temen –teman ku yg sudah berpengalaman di belakangku, dan tak terpaut jauh denganku merakapun berselancar ria menuruni jalur pangrango yang sehari lalu dilalui dengan senyum dan cucuran keringat.
Kandang badak jam 12.40
Disini kami makan siang dengan sisa logistik yang ada, itung- itung mengurangi beban caril agar entang tapi rasanya tetep aja berat, kami makan siang dan ngupi sebelum kami tancap gas ke air panas. Cukup waktu 1 jam perjalanan kami sampai di air panas, sambil menunggu yang lain tiba kami beristirahat di pos pemandangan yang sudah rusak.
Setelah kami berkumpul kami melanjutkan turun ke panyangcangan, dalam perjalana ini rintik hujan ketika kami mendekati rawadenok, hujan turun semakin deras dan kamipun mempercepat langkah dan sampai di panyangcangan penuh dengan pendaki lain yang neduh, kuputuskan langsung turun dan kembali ke tempat alvine.
Jam 16.30 kami melaopr dan say hallo sama yang jaga, kebetukan Cuma ada bapak TNGP yg ku kenal,ku titip pesen surta ijin ada dibelakang sama iyan, anton ,aku ,asepdan afan meluncur ke tempat alvine .sambil menunggu yg lain menyusul.
Di tempat alvine kami berbenah dan selepas magrib kami turun menuju cibodas dan kembali ke jakarta lagi.
Special thanks to :
1. Allah SWT yang menyertai perjalanan ini
2. Orang tua tentunya yang sabar anaknya ngelayap terus
3. Asep thx untuk tukeran carilnya pas turun lega bgt ternyata ga bawa caril
4. "J" ke semerunya gue TBA aja yach
5. Opet thanks udah mutuin kita narsis, thanks untuk cumi dan ikan tepungnya
6. Anton thanks yach ...maaf ketularan ngecengin elu ...
7. heru thanks juga yach di cengin juga ga marah, tar naik lagi yah ...
8. iyan ..... thanks udah bawain SB nya ( pulang jadi bawa 3 hihihi )
9. Nadia ...racun gue masuk menjalar ke otak lu yach
10. Afan ...thanks udah ikut trip orang2 aneh ini, jgn ditiru yach...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar