Joy of Mount Raung

Oleh : Taufan

Puncak Sejati - kami pernah singgah di sini ...
Minggu sore 21 Des 2008, setelah menempuh perjalanan darat kurang lebih 20 jam dari Jakarta, akhirnya kami tiba di Stasiun Kalibaru, Banyuwangi. Saat menurunkan 5 ransel besar dari rangkaian gerbong kereta Mutiara Timur, seorang pria bertubuh gelap dengan pedenya menghampiri kami dan bertanya, "Ini tim dari Jakarta yang mau ke Gunung Raung ya?". Serempak kami menjawab, "Iya benar".Lantas dia memperkenalkan dirinya. Ternyata ia porter yang akan membantu perjalanan kami dalam beberapa hari ke depan nanti. Pak Musni namanya, petani kopi yang kadang menggunakan waktu luangnya untuk mengantar tamu menyusuri lereng Selatan Gunung Raung. Ya Gunung Raung, Puncak Sejati, itu tujuan tim kami kali ini.

Untuk bisa singgah hingga Puncak Sejati, ada dua pilihan jalur yang bisa dilalui, jalur Kalibaru yang dirintis oleh tim Pataga Surabaya dan jalur Glenmore yang sempat dibuka oleh beberapa tim, salah satunya oleh Mapala UI. Tim kami memilih lintasan Kalibaru dengan entry point desa Wonorejo, dengan pertimbangan jalur ini 'lebih ramah' di tengah cuaca bulan Desember yang diperkirakan akan diwarnai badai dan tarian hujan.

Keinginan untuk bisa singgah ke Puncak sejati Gunung Raung, sebenarnya sudah tercetus sejak beberapa tahun lalu. Sebelum ini, sudah ada 3 kali rencana ke sana, baik lewat rintisan jalur Kalibaru maupun Glenmore, namun semuanya tidak ada yang terlaksana. Alasannya cuti yang gak di-approve, perhitungan budget yang membengkak dan alasan teknikal tim lainnya. Nyaris saja rencana ini dipeti-eskan, sampai akhirnya ada informasi kalau tim Satu Bumi sukses mencapai Puncak Sejati. Kabar ini cukup menggugah kami untuk mengutak-atik kembali rencana perjalanan yang pernah disusun.

Beberapa catatan perjalanan yang dibuat oleh tim-tim terdahulu kami buka kembali, termasuk juga dokumntasi video yang ada. Jujur..., berkali-kali kami harus menahan nafas saat menyaksikan tayangan video dan membaca catatan mereka, terutama pada etape terakhir menuju Puncak Sejati, membayangkan igir-igir tipis, kabut, hujan, jurang, dan kawah yang ratusan meter dalamnya.

Jika melihat pada peta topografi, lintasan jalur Kalibaru memang cukup panjang dan didominasi oleh banyak tanjakan. Ditambah lagi tidak ditemukanya sumber air di sepanjang jalur. Kondisi tersebut benar-benar membuat kami berempat harus memutar otak, untuk menyiasati semua hambatan yang bakal kami temui di depan. Berangkat dari beberapa catatan perjalanan, dokumentasi video dan perkiraan jalur pada peta, kami melakukan analisa dan menyusun strategi yang tepat dan sesuai dengan kekuatan dan kelemahan tim kami.

Mengacu pada catatan pendakian yang ditulis dalam dua tahun terakhir, jalur Kalibaru rata-rata ditempuh dalam waktu 7 harian untuk naik dan turun. Salah satu challenge terbesar pada lintasan ini disamping beratnya medan dan rangkaian tanjakan yang super lebay, adalah manajemen logistik dan air. Peralatan pendakian bisa diupayakan yang se-ultra light mungkin, namun tidak untuk air dan logistik. Pilihan makanan berenergi tinggi, seperti snack bar, coklat, sereal, oatmeal, masuk dalam list utama daftar belanjaan kami karena kemasannya yang ringkas tapi berkalori tinggi. Namun setelah dirundingkan dengan keseluruhan anggota tim, ternyata memang ada beberapa warna pada cita rasa, lidah, dan selera dari kami berempat. Opsi untuk menyantap makanan berkalori tinggi sepanjang perjalanan gugur. Dengan kata lain, kebutuhan karbohidrat dari beras harus tetap dikondisikan sepanjang perjalanan naik turun. Nasi berarti harus digenapkan dengan menu lain agar rasanya lebih sempurna di mulut dan perut kami.

Berangkat dengan menu konservatif plus air yang bakal kami bawa untuk 6 hari pendakian, kami melakukan perhitungan beban. Dan ternyata beban yang bakal kami angkat dengan ransel, bakal menyimpang jauh dari batas ideal 1/3 berat badan kami masing-masing. Suatu hal yang kami benar-benar peduli adalah dampak jangka panjang jika memaksakan diri membawa beban dengan berat yang jauh dari batas ideal. Toh kami masih berencana untuk singgah di banyak puncak yang lain dan bercita-cita luhur untuk tetap berjalan tegap di hari tua nanti. Tim akhirnya memutuskan untuk menggunakan jasa porter.

Lintasan pendakian jalur Kalibaru dimulai dari pondok Pak Sunarya, yang letaknya dekat dengan batas hutan. Ada sumber air dekat dengan pondok ini, kami menambah lagi persediaan air di sini, sehinggal total air yang kami bawa menjadi 58 liter, untuk 6 hari perjalanan, buat 5 orang anggota tim

Senin pagi-pagi sekali, kami sudah melakukan stretching di depan pondok yang tidak berpenghuni itu sebelum mulai melintas, menelusuri kebun kopi, semak belukar dan masuk ke dalam rimba Gunung Raung. Dua jam kemudian saat kami tiba di Pos1, di luar dugaan kami bertemu dengan tim lain yang juga berasal dari Jakarta, timnya bang Nikk. Ada wajah-wajah dan senyum yang familiar buat kami berempat. Dari obrolan singkat, ternyata mereka berangkat sehari sebelumnya dari entry point yang sama. Sementara mereka masih menyelesaikan packing, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Hari pertama pendakian, kami bisa mencapai pos Cemara, sesuai dengan target saat menyusun itinerary di Jakarta. Lintasan hingga Pos Cemara sudah terbuka lebar, tramontina yang kami bawa hingga sore itu masih tersimpan rapi dalam bungkusnya. Namun sepanjang jalur itu kami dihadang rombongan pacet, agas, dan duri rotan yang tajam. Tidak ada yg terbebas dari emutan pacet dan gigitan agas hutan itu. Bekas gigitannya menyisakan rasa gatal yang masih terasa hingga berhari-hari kemudian. Dengan berasumsi bahwa kondisi jalur ke pos-pos selanjutnya juga sudah terbuka lebar, hari kedua kami mematok target untuk bisa sampai di Pos Ereng-Ereng Atas. Sebagian air dan logistik kami tinggal di Pos Cemara. Pengurangan sebagian beban ini diharapkan bisa semakin memaksimalkan kecepatan langkah kami.

Selepas Pos Cemara hingga Pos Ereng-Erang Atas, kondisi jalur cukup berat, nyaris tanpa bonus. Beberapa anggota tim mengeluhkan menu sarapan (roti tawar, keju, dan telur mata sapi) yang tidak cukup untuk mendongkrak stamina untuk menembus tanjakan demi tanjakan ekstrim menuju Pos Ereng-Ereng Atas. Butuh 11 jam, sebelum akhirnya kami bisa duduk dan gegeni di batas vegetasi Ereng-Ereng Atas. Di sana porter kami cuma berkomentar singkat, "Ini benar-benar ugal-ugalan, tim-tim terdahulu butuh 4 harian untuk sampai sini, sementara tim ini cuma butuh 2 hari". Kami cuma tertawa panjang mendengar komentar spontannya itu.

Pagi berikutnya, di Puncak Raung Kalibaru, tubuh kami sudah terpasang harness, carabiner, dan peralatan pengaman tubuh lainnya. Hari ketiga ini kami berharap bisa singgah di Puncak Sejati. Diperkirakan butuh satu hari untuk pulang pergi dari Puncak Kalibaru. Cuaca begitu cerah, langit di atas kami tampak biru, tidak ada angin yang bertiup keras. Di depan ada bentangan panjang igir-igir tipis dengan kanan kiri jurang dan kawah yang dalamnya ratusan meter. Kami akan melaluinya dengan cara moving together, berjalan bersama dengan masing-masing anggota tim terkait dengan tali kernmantel dynamic rope.

Critical moment sempat terjadi saat lead climber menaiki kubah Puncak 17 dengan kondisi bebatuan dan pasir yang rapuh dan mudah ambrol, sementara di bawah menanti jurang yang puluhan meter dalamnya. Begitu pengaman dan tali terpasang di Puncak 17, anggota tim yang lain satu per satu menyusul menggunakan ascender sebagai alat bantu yang sekaligus mengamankan tubuh mereka hingga tiba di atas.

Saat menuruni Puncak 17, dekat dengan ujung Curah Malang (ini sebutan penduduk setempat untuk jurang yang dalam) bergantian kami rappelling, dan berpindah ke punggungan berikutnya untuk mencapai trek terakhir menuju Puncak Sejati.

Kabut hanya menyapa kami sejenak sepanjang 4 jam summit attack itu, selebihnya langit biru cerah sepanjang hari. Pukul 11, satu per satu anggota tim memelukku erat di Puncak sejati Gunung Raung. Ya kami berlima akhirnya bisa singgah sebentar di titik 3344 mdpl itu.

Sore hari pukul 16.00, saat tiba kembali di Pos Ereng-Ereng Atas, kami bertemu kembali dengan timnya bang NIkk, mereka menjadwalkan untuk menuntaskan pendakian ke Puncak Sejati pada hari berikutnya. Malam itu kami makan besar di Pos Ereng-Ereng Atas, dengan menu hasil kolaborasi tiga chef utama kami yang benar-benar tampil habis-habisan meracik makan malam hari itu.

Hari keempat adalah hari perjalanan pulang. Saat berjalan turun, kami punya banyak kesempatan untuk menikmati view pohon-pohon besar dan deretan lereng yang bergelombang di atas sana. Sisa logistik juga kami habiskan sepanjang perjalanan turun itu, entah karena kerja tiga chef yang rajin, atau memang perut-perut kami yang lapar. Selepas Isya kami tiba kembali di rumah Pak Mus, segelas kopi Wonorejo menyambut kedatangan kami malam itu. Aroma dan kepekatan kopinya cukup untuk menghapus rasa penat dari perjalanan turun itu.

Menurut catatan kami, lintasan menuju Puncak Sejati dari desa Wonorejo, kecamatan Kalibaru, Banyuwangi sudah terbuka cukup lebar. Jika betis-betis kalian khilaf, kalian juga bisa menempuhnya dalam 4 hari pulang pergi, seperti halnya tim kami. Critical point hanya akan ditemui selepas Puncak Raung Kalibaru hingga Puncak Raung sejati. Dibutuhkan kemampuan teknis tali temali dan penggunaan alat-alat bantu dan pengaman pemanjatan. Ada porter handal yang sewaktu-waktu bisa membantu kalian untuk bisa singgah di sana. Jika butuh pemandu, dua rekan kami juga berkenan untuk memberikan jasa profesionalnya. Jadi siapapun bisa singgah di sana, termasuk juga manusia-manusia kota yang kebetulan suka bau harum hutan dan singgah pada lereng-lereng berkabut, seperti kami.
Pelaku : Taufan, Titi, Kisut, Sinyo
sumber : http://teamugal2an.multiply.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar