Oleh : Mbok Ju
Jum’at, 12 Desember
05.30am Aku terbangun oleh nada sms dari pak Kusworo rahardian yang mengabarkan ramalan BMG mengenai cuaca dan kecepatan angin dalam 2 hari ke depan yg berlaku hampir merata di seluruh pegunungan Jawa,30-40 knot per jam.“aduh apa ini maksudnya”
Sore ini hujan, tapi tidak membuatku berfikir sedikitpun untuk mengurungkan niatku mendaki.Kali ini tujuanku masih belum beranjak dari wilayah kecil yang banyak orang menyebutnya Jawa Barat,adalah Duo Tracking untuk Gunung Cikurai dan Solo Tracking untuk Papandayan… yah itulah tujuan awalnya.
Jam 09 malam aku meluncur ke terminal Kp Rambutan, setelah aku cek ulang semaua alat pendakian dan logistik yang akan aku bawa,Hujan…,aku menuggu adiku sekar laras yang akan menjadi partnerku satu2nya dalam perjalanan kali ini.Tak harus menuggu lama, sekar datang dengan keril 75lt nya, weleh weleh bener2 wanita perkasa.
Tanpa buang waktu aku langsung menuju bis yang akan memabawaku ke Garut, tepat jam 11.00 bis berjalan,fasilitas televisi yang ada dalam bis sedang menayangkan film komedi dono, lucu juga,lumayan lah buat hiburan dari pada liatin sekar yang dah mulai merem melek, ngantuk banget keknya.
Sabtu, 13 Desember
Pagi , jam 03.30am sampai juga di terminal Garut,sambil menunggu matahari muncul yang juga di barengi munculnya angkot2, aku dan sekar istirahat di mushola kecil depan terminal sampai sekitar jam 5.30 pagi, lalu sarapan nasi kuning,ambil gambar dan …. Hadoohh lama banget nunggu ankot warna biru putih, waahh tapi bagus juga nih pemandangan di sekitar sini, gunung Cikurai menjulang sempurna, gunung Papandayan juga terlihat jelas,Hmm udara yang dingin dan lingkungan sosial yang jauh beda dari kota Jakarta membuat aktifitas menungguku menjadi menyenangkan.
Ahirnya yang aku tunggu datang juga, angkot membawa kami ke desa Cikajang, perjalanan lumayan jauh dengan tarif angkot 6000rupiah perkepala, pemandangan hijau di sepanjang jalan cukup membuat mataku melek setelah semalaman susah tidur gara2 ngopi di terminal.tapi ya sekali lagi partnerku selalu dalam kondisi merem pas aku pengen ajak bicara, sekar tidur lagi…..huuuhhh
Tiba di pangkalan ojek jam 8pagi, ga perlu lama tawar menawar karena sepertinya tarif ojek menuju pemancar sudah di patok 20.000 rebu untuk para pendaki, jalanan bebatuan dengan motor trill bikin hatiku berdetak kencang, tibalah aku di pemancar di rumah bu enok, ramah. aku packing ulang, pake sun block dan pasang geither.. siap jalan.
Cuaca cerah,
Melewati perkebunan teh, lahan pertanian dan dari sinilah sadar banyak jalur menuju batas lahan pertanian. Bincang2 dengan beberapa petani yang sedang menanam kmudian kami pamit untuk melanjutkan perjalanan.12.am sampai di batas vegetasi, melewati sungai kecil. Jalur awal yang cenderung landai, basah, dan licin mulai kami rasakan.1-2 jam pertama..
Kabut mulai turun, tanjakan mulai terjal, banyak pohon tumbang, semak basah berduri dengan pijakan tanah yang semi gambut,seketika adrenalinku terpacu kencang saat tapak2 bentuk segitiga meruncing sangat jelas tercetak di atas tanah basah, sepertinya aku mengenali pemilik telapak kaki itu, yaps babi hutan,tapak kaki yang masih sangat baru menunjukan pemiliknya baru saja melewati jalan ini. Hujan mulai turun, yang ada di hadapanku adalah semak belukar yang menutup rapat jalan, hujan makin deras, aku harus merayap dan menaiki pohon2 tumbang yang banyak berserakan untuk melewati jalur ini,ku selipkan pisau commando di pinggang, sekar asik dengan selang hydropack untuk mengusir haus,,makin lama hujan makin deras, angin kencang sampai pergerakan pohon terdengar jelas, kami terus naek dan terus naek.. raincoat ternyata tak mampu melindungi kami dengan sempurna, tak terasa badan kami basah kuyup, jalan makin samar hanya ada semak dengan jalan bayangan yang berdiri terjal di depan kami,tak ada pilihan laen, tak ada jalan laen.. kami merangkak menaiki tebing dan hanya bergantung ama ranting pohon, akar2 dan batang kayu dengan beban keril 45lt di pundaku.
Jam 4 sore, langit sangat gelap, petir, jalur mulai abstrak sampai mentok di bawah tebing setinggi 6 meter ada jalan yang sepertinya tak sanggup kami lalui karena begitu tegak, disamping badai yang mulai menggila, kami putuskan untuk cari tempat agak lebar dan dan sedikit jauh dari tebing, badanku mulai menggigil, basah kuyup dan kondisi sekar juga sama ahirnya kita ngecamp di ketinggian sekitar 2600mdpl, sebisanya aku dan sekar mendirikan tenda di tengah lahan yang sempit dan terpaan angin, tenda pun berdiri, aku masukan keril dan save self untuk menghindari hypo saking dingin dan lelahnya sore itu..kami pun masuk ke tenda dan sangat nyaman melihat kondisi luar yang jauh berbeda.. aku minum suplemen penghangat untuk menambah suhu tubuh,tentunya setelah semua baju aku ganti dan sekar jg, alunan music dari HP ku mengalun pelan seiring matahari yang perlahan mulai menghilang membawa pergi seluruh cahayanya…sepi....
“Tiba saat mengerti, jerit suara hati..letih meski ku coba melabuhkan rasa yang ada, mohon tinggal sejenak, lupakanlah waktu , temani air mataku.. teteskanlah lara, merajut asa, menjalin mimpi, endapkan sepi-sepi……..” potongan lagu semakin membuat anganku melayang jauh ke sebuah tempat dimana cintaku terdampar, bahkan di negri antahberantah seperti ini pun otakku tak sanggup menolak semua ingatan tentang dia.
Jam 7pm, dihari yang sama,
Secangkir jahe susu mengahangatkan tubuh kami, roti tawar dengan keju mengenyangkan perut kami, mencoba tidur dengan SB yang kami bawa sendiri2,kaos tangan,kaos kaki menambah kehangatan diantara rimba sunyi cikuray.
Entah berapa kali ku bolak balikan badan ketika tengah malam terdengar suara babi hutan melewati tenda kami, pengen bangunin sekar tapi sepertinya sekar sedang pulas dengan mimpinya yang telah mendahului mencapai puncak..biarin aja lah.. aku berdoa tak henti2, diluar masih hujan.. suara itu perlahan berlalu,legaaa sekarang, akupun tertidur.
Minggu, 14 Desember
05.00am terbangun.. diluar hujan sudah berhenti, embun pagi begitu bening menyambut kami, skilas tampak G Papandayan begitu anggun,meliuk2 seperti ular yang sedang birahi, kuputuskan pagi ini untuk mencari jalan ke puncak sendiri sementara sekar menyiapkan sarapan pagi. Wah tak lama berjalan sepertinya memang buntu, hanya ada jalan turunan yang bukan di jalur kami naek kemaren.,aku kembali ke tenda, kopi panas telah di siapkan sekar buat aku,juga sarapan sop baso, tempe bacem ama ikan ,wuih sekar jago masak nih… kami pun sarapan dan memutuskan untuk turun dan pulang.karena waktu kami terbatas dan harus segera kembali ke Jakarta.
09.30am packing selesai, turun, sekar menilik jalur kearah utara, 15 menit berselang mata kami tertuju pada sebuah pohon dengan potongan kain melilit di batangnya. “Sekar… ini jalur ke puncak” teriak ku
“Mbak kita coba naek, tinggal keril dulu di sini, sepertinya puncak sudah dekat” kata sekar. Lalu kami lepas keril dan kami mulai berjalan mengikuti tanda di pohon. Girang bukan main setelah 30 menit mendaki kami melihat tanda panah dari papan orange menunjukan jalan kepuncak,jalan mulai landai, sepertinya kami melihat jalur normal yang menuju ke bawah,, mungkin itu jalur yang biasa di lalui para pendaki” batinku.
1.5 jam an kami lewati sampai sekar berteriak menunjukan sebuah bangunan berukuran sekitar 2x2m “itu puncaknya” kami berjalan bergandengan menuju bangunan yang sepertinya terdapat bekas pondasi pemancar yang selama ini menjadi patokan untuk puncak Cikuray… kabut mulai turun, kami tak bisa melihat pemandangan dari sini. Hanya 5 menit kami singgah,hujan perlahan turun,semakin deras dan semakin deras, kami berlari menuju tempat dimana kami meletakkan keril, kami melewatkan sebuah tanda yang membuat kami kehilangan arah.. telah jauh kami turun,hujan lebat disertai angin dan petir, “ sepertinya kita melewati jalur yang salah” kataku “aku tadi melihat tanda di atas sana” kata sekar.Memang ada banyak sekali tanda penunjuk arah tapi ada satu tanda di persimpangan yang menjadi petunjuk arah letak keril kami, “kita sudah melewati terlalu jauh” kataku “Soalnya tadi saat naek lumayan banyak tanda dan tanda terahir sempet bikin aku erkecoh,persimpanganya juga mirip2,ya sudah kita naek lagi temukan tanda itu, dan pulang “kata sekar.Ditengah hujan dan kondisi basah kuyup karena raincoat ku jg punya sekar tak mampu menangkal masuknya air ke pakaian kami..waktu semakin sore, kami membabi buta untuk secepat mungkin turun, dengan kondisi tanpa keril dan penerangan, kehilangan matahari adalah ancaman. Beberapa kali aku terjatuh karena jalan licin dan terjal, juga sekar yang sering kali terpeleset dan terjepit di antara pohon tumbang.tangan kami lecet dan tergores duri juga akar2 yang kasar,karena kaos tangan yang basah semakin menambah dingin suhu badan kami jadi kami lepas.1.5jam berlalu sampai ahirnya aku temukan tanda sebagai penunjuk letak tas keril kami, kami pun menuruni kembali jalur itu dan menemukan keril, dengan sisa2 tenaga kami angkat dan mulai menuruni jalan untuk pulang. Kami ada di jalur normal sepertinya, hujan turun dan badai mulai datang lagi, kami tak sanggup melanjutkan perjalanan karena jalur berkabut tebal dan angin besar menyulitkan kami melangkah. Kami mencari tempat agak lapang dan mendirikan tenda lagi dibawah pohon besar, mungkin keputusan kami salah, tapi kami tlah siap mengambil resiko terburuk untuk nge camp lagi dari pada jalan merangkak dengan resiko terkena Hypo karena kedinginan.
Tenda pun berdiri, kami aman dengan sisa pakaian yang agak lembab dan logistic yang masih ada, sekar menyalakan HP dan entah siapa yang dia hubungi, tapi apapun itu tak merubah kondisi kami di alam,sisa gas masih bisa menghangatkan susu jahe yang kmi minum segelas berdua, biscuit coklat dan regal mengisi perut kami.
Ku genggam kompas , “kenapa kau tunjukan arah yang salah” batinku yang ingin melempar kebodohanku ke benda kecil ini.. dalam keheningan sejenak, kurenungi segalaanya,sunyi….
“Ku coba memahami tempatku berlabuh, bersandar di keruhnya satu sisi dunia, hadir di muka bumi tak tersaji indah, ku ingin rasakan cinta……..
Petikan lagu mengiringi jiwa lemah ku yang perlahan terlelap.
Semalam berlalu, mimpi mengantarkan aku pada pagi hari di hari senin.cuaca cerah, seperti wajah sahabatku yang juga mulai berkemas untuk turun. Sambil packing aku dan sekar saling lempar ejekan, tujuanya bercanda tapi hari ini kami benar2 telah mendapatkan pelajaran luar biasa pentingnya tentang alam,kedamaian, ambisi,egoisme, kepuasan dan arti pentingnya sebuah persahabatan. Perjalanan turun hampir tak ada masalah, kami bertemu dengan pak dede yang merupakan ketua pemuda desa ini, kami diajak mampir ke rumahnya,di rumah yang sangat sederhana kami di beri jamuan sarapan pagi oleh istri pak dede.kami packing ulang. Pak dede sempat menanyakan bungkusan tas kresek hitam besar yang aku bawa dari atas. “ini isinya sampah, pak”jawabku “wah coba semua pendaki kaya kalian, pasti cikurai bersih”tambanya
Sempet nyengir juga pak dede bilang gitu. Di luar cuaca mendung, pak dede membantu kami untuk memesan tukang ojek yang akan mengantar perjalanan pulang kami sampai di desa Cikajang.tak lama kami menaiki angkot sampai di terminal Garut, dan naek bis AC ke Jakarta tepat di jam 4.30pm, sejak dari desa Cikajang hujan tak berhenti. Tapi kami sangat nyaman dengan sejuta cerita petualangan yang baru kami alami..
Sampai ketemu lagi Cikuray, liuk indah ragamu akan slalu aku kenang karena aku akan kembali lagi untuk bercumbu dengan alam mu, s o m e d a y…..
Mbok Ju
“dengan segala kekuranganya”
Special Thanks to:
Alloh SWT, yang telah memberi segala kenikmatan hidup lebih dari yang aku minta
Ayah dan mboke, maafin anakmu ini yang slalu pulang dengan baju kotor
Laras Sekar, You are the best partnership of the year hehehe.. kamu hebat nduk!!
Hendri Agustin, Io sogno la montagna,ma sopratutto io penso al mio amore
Pak Kusworo Rahardyan, untuk bimbingan, info, semangat dan segala sharing ceritanya
Hikam, untuk kepercayaan,dukungan dan doa2nya
Bang Nanda, Kong Farid untuk persahabatan,doa dan supportnya
Temen2 milis dan komunitas di luar milis, Thanks for all
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar