Gunung Salak vs Buah Salak

Oleh : Kiskie
"10 menit lagi!," kata Sang Pemandu.
"10 menit lagi," ulangnya. "Ini Pos 6, Puncak adalah Pos 7. Ayo 10 menit lagi, 1 pos lagi."

Gemerlap sesaat di hati salah seorang gadis yang berjalan terseok-seok di belakanganya. Seperti kembang api di langit malam, disulut dengan cepat, berpendar membelah udara, lalu padam dan kembali pekat. Pendaran itu pergi secepat datangnya. Seperti itulah efek dari kata penghiburan tersebut, melintas sejenak di benak, kemudian padam digilas realitas logika.
"10 menit dari Hongkong??!," namun teriakan itu tidak pernah keluar dari mulut si gadis, hanya tertahan di ujung lidahnya, tabah dengan keyakinan bahwa semua jalan pasti berujung. Carrier kembali dipasang, otot-otot dipaksa meregang, selangkah demi selangkah mereka kembali menyusuri jalan, yang sudah diketahui bahwa 10 menit tersebut adalah mengacu pada 10 menit Waktu Indonesia Bagian Hongkong, alias omong kosong.

Sebelumnya di Pos 3, Kiskie bertanya, "Berapa pos untuk sampai ke Puncak?".

"Ada 7," jawab Tri, Sang Pemandu.

"What? Ga ada yang lebih sedikit apa?," timpal Mindo.

"Hush! Ga boleh ngomong gitu Ron!," Tri Nampak serius.

Kiskie membatin, apakah Tri yang kehilangan selera humornya ataukah memang itu ucapan tabu yang harus dihindari? Akhirnya dia menyimpulkan sendiri dalam hati, bahwa kakaknya, Rona Mindo Rysa, tidak terbersit sedikitpun untuk bermaksud meremehkan perjalanan ini, bahwa dia hanya berkelakar. Dan Sang Pemandu, Tri, hanya mengikuti nalurinya sebagai pemandu, yaitu mengamankan perjalanan dengan kehati-hatian penuh. Itu saja. Sementara itu, anggun dengan diam, berdiri dan memandang, di sana adalah Budi, Sang Sweeper yang hanya mengamati. Peaceful.

Pos 3 ini adalah pos terakhir untuk pengisian persediaan air. Ada pipa air dengan limpahan air di dalamnya yang berbunyi mengusik. Di sini, perbekalan air dipenuhi, karena selama perjalanan ke depan tidak ada lagi mata air yang tersedia.

"Ayo Kie, 1 pos lagi dan kita akan sampai di Puncak. Setelah itu kalian goreng-goreng dan masak. Ntar gue turun jemput Budi. Ayo 10 menit lagi," Tri memang tak pernah kehabisan kata-kata. Saat itu Kiskie, Mindo dan Tri telah sampai di Pos 6, meninggalkan Sang Sweeper di bawah yang berjuang melawan kram kakinya.

"Bagaimana Mas Budi? Kasihan dia sendirian dan kakinya sakit.

Kita tunggu dia di sini," Kiskie berbicara, lebih kepada dirinya sendiri, bukan pada Tri. Air hujan menetes-netes dari ujung topinya, sambil mengucapkan itu, dia mengamati tetesan air bening kecil yang telah melembabkan segala yang dia kenakan. Dia berdoa agar semangatnya tidak ikut menetes keluar seperti air ini.

"Tidak, kalian tenang saja. Gue percaya Budi. Dia baik-baik saja.

Dia tahu harus bagaimana. Pesan dia ke gue adalah `bawa mereka ke Puncak'. Ayo makin cepat kalian

sampai, makin cepat gue turun jemput Budi," jawab Tri.

"Dia benar Kie, kita harus sampai puncak segera," kata Mindo.

Ya, aku tahu dia benar. Oh Tuhan, aku yakin semua jalan di dunia ini pasti berujung. Batin Kiskie.

Seandainya mereka semua tahu, bahwa Kiskie hanya menginginkan perhentian sejenak, sebentar saja. Dengan menunggu Mas Budi, dia berpikir dia akan bisa beristirahat sebentar. Kadang memang demikian pattern manusia, menyembunyikan hasrat pribadinya dengan mencari-cari dan memunculkan segala pembenaran yang masuk akal. Sang Pemandu tetap melesat. 2 gadis merayap. Seorang kawan mereka di belakang, tak terlihat di antara rapatnya hutan dan belokan jalan, berjuang melawan kram otot kaki.

Salak, tentu saja tidak hanya sekedar nama.

Kiskie, setidaknya, telah sampai pada kesimpulan bahwa Gunung Salak, memang seperti buah salak. Buah salak, kecil, tertutup kulit coklat bersisik rapat, daging buah padat tapi lembut bagi gigi, dan akhirannya adalah manis bagi indra pengecap. Gunung Salak, kecil (2211 mdpl), tertutup pohon-pohon hijauc-coklat lebat, akar-akar dan batu-batu adalah sisik-sisiknya yang semakin ke atas semakin meruncing, tanah lembut menjurus lumpur bagi kaki, dan akhirannya adalah elok bagi indra penglihatan. Yah, kira-kira seperti itu. Ilustrasi itu sudah cukup menggambarkan.

Jalur yang mereka lewati adalah jalur Cimelati. Konon jalur ini adalah yang paling cepat dibandingkan jalur-jalur lainnya. Perjalanan ini adalah perjalanan `tertarget', jika bisa dibilang bukan perjalanan santai, karena itu dipilihlah jalur yang paling cepat, yaitu Cimelati. Tanggal 25 Des jam 2 pagi dini hari, mereka mulai menapaki hutan pinus, berjalan sekitar 1 jam terus menyusuri arah kiri, mereka sampai di tanah landai Pos Bayangan 2. Di sini membuka tenda istirahat darurat, gelisah dalam tidur singkat, bangun sarapan secepat kilat, packing dan kembali menapak jam 7 pagi saat udara mulai menghangat. Tertanam kuat di pikiran masing-masing, bahwa tanggal 26 pagi, semua kaki-kaki harus sampai di jalan beraspal lagi.

Apakah buah salak ada ulatnya? Mungkin ada jika buah itu busuk. Apakah Gunung Salak ada pacetnya? Tentu saja ada, terutama di musim penghujan.

Dan di musim penghujanlah kesempatan mereka bisa berkunjung sebelum ditutup selama 1 bulan untuk pemulihan ekosistem mulai 1-31 Januari 2009. Mindo punya pengalaman tersendiri dengan pacet, dia bisa saja melompat ke siapapun yang tersedia di sekelilingnya jika menjumpai si kecil penghisap darah itu. Kiskie bukan lebih berani dari Mindo, tapi dia puas bahwa semua pelindung badan termasuk geather-nya berfungsi baik. Meski demikian, dia sempat tersentak kalap sesaat ketika melihat hewan kecil itu menempel di sarung tangannya. Ditepisnya hewan itu dengan gairah berlebihan seolah hewan malang itu akan menghisap semua persediaan darahnya. Jika saja Mindo melihatnya kelabakan seperti itu, tentu dia akan puas tertawa.

"Terus-terus. Ayo terus," Tri selain tidak pernah kehabisan kata-kata, juga seperti tidak pernah kehabisan bahan bakar. Terbuat dari apakah kakinya? Sejak jam 7 pagi tadi, kaki-kaki mereka mulai berjalan, Pos 2, Pos 3, Pos 4, Pos 5, Pos 6, telah dilalui. Dan sekarang, satu tarikan lagi, satu upaya akhir sebelum melepaskan beban.

"Awas licin! Jebakan lumpur! 10 menit lagi," Tri tetap mantap.

"My Godness," erang Mindo,"ini jelas masih jauh," imbuhnya.

Andai aku punya sayap. Batin kiskie. Atau setidaknya, `tunggangan bersayap', seperti Nazgul dalam kisah The Lord of The Rings, atau seperti Eragon yang memiliki naga terbang bernama Saphira, atau seperti Ping yang memiliki naga terbang bernama Long Danzi. Semua itu hanya kisah fiktif, tentu saja. Kenyataannya, yang dimilikinya adalah sepasang kaki, sepasang tangan dan sepasang mata, yang
semuanya rindu kenyamanan tidur.

Akar demi akar, batu demi batu, lumpur demi lumpur, pohon demi pohon, daun demi daun..

Tanjakan, belokan, tanjakan sambil belokan, tanjakan, belokan, tanjakan sambil belokan..

Berapa banyak lagi rumput diinjak, berapa banyak lagi sarang labah-labah diterabas, berapa lama lagi nafas dan kaki bertahan? Sepatu yang semula berat, semakin berat dengan lumpur yang menempel.

Tidak ada jalan yang tidak berujung…

Tidak ada jalan yang tidak berujung..

Tidak ada jalan yang tidak berujung..

Tidak ada jalan yang ti…

"Kie sini, Kie!" Tri memecah sunyi, dia menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang.

"Ada apa?" jawab Kiskie lesu, sambil memaksakan kaki mendekati Tri sekuat kakinya sanggup.

"Sini gih cepat!, gue pinjem matamu, tolong lihat apakah itu warna biru?" Tanya Tri.

Kiskie mengikuti arah telunjuknya ke atas dengan menyipitkan mata, " iyah itu memang warna biru. Seperti atap rumah," jawab Kiskie. Oh Tuhan, semoga ini bukan fatamorgana gurun pasir. Harapnya
dalam hati.

"Berarti itu sudah puncak, di atas sana ada Pondok dan makam. Ayo cepat, kalian bisa masak dan bikin minuman," dengan kata-kata itu Tri melesat pergi. Mindo mendekat, ikut memandang warna biru yang sama. Warna biru itu memang atap Pondok, berbaur dengan warna biru langit yang sejenak bebas dari awan mendung. Kiskie melepas pandangan itu, kembali menunduk ke tanah, menyisir jalan yang tersisa, kembali memanggul carrier yang sebelumnya sempat dibawakan Tri. Show must go on.

Jam 13.30

Pondok, makam, lapangan terbuka, kabut tebal di sekeliling. Sykurlah.

Inilah Puncak Salak I.

Dua gadis duduk hening di lapangan terbuka. Termenung. Pasrah. Sunyi. Damai.


"Hei kalian, cepat masuk Pondok. Di dalam sudah gue bersihkan, kita makan," Tri keluar dari Pondok, lalu membawa masuk barang-barang yang tergeletak sembarangan di lapangan. Kiskie dan Mindo mematuhinya. Mereka membongkar muatan di dalam.


"Ayo masak," kata Tri.

"Kompor Kiskie dimana?" tanya Mindo.

"Di Mas Budi," jawab Kiskie, lalu bertanya,"kompor Mas Tri dimana?"

" Di Budi," kata Tri.

Blaszzt. Ini fatal sekali.

Segala logistic digotong Kiskie, segala peralatan makan digotong Budi. Saat ini Budi terpisah. Bagaimana jika Budi memutuskan camp di bawah dan memulihkan kakinya di sana? Mereka yang di atas mungkin lebih beruntung, snack ringan masih tersedia untuk pengganjal. Sedangkan Budi? Kiskie tidak akan memaafkan dirinya bila sampai membuat kawannya kelaparan. Tri mengurungkan niatnya turun menjemput Budi, karena hujan kembali turun dengan derasnya. Atau dia lebih percaya pada kemampuan Budi dibandingkan pada Kiskie dan Mindo. Dia lebih khawatir meninggalkan para gadis di Puncak daripada membiarkan Budi sendirian di bawah. Apapun alasannya, rasanya semua itu benar.

Seolah menjawab panggilan, Sang Sweeper datang tak lama berselang. Semua yang di sana begitu lega melihatnya. Tak perlu waktu lama untuk kemudian memulai pesta, dan mereka menikmatinya dengan suka cita. Masakan hangat Mindo, minuman hangat susu Milo. Di sana, di dalam Pondok yang dibangun entah oleh siapa, mereka menikmati manisnya `buah salak' mereka.

Hujan turun dengan lincahnya, menambah nikmat dan khidmat suasana. Tidak lama, semua tenggelam dalam mimpi kelabu masing-masing. Kabut menggelayut. Semakin larut, selimut tubuh terlipat semakin kusut, demi mencegah keluarnya panas tubuh, dan menghalau uap dingin yang menjalar menusuk.

Salak I, apakah Salak II sepertimu?

26 Des. Subuh. Sunrise. Sempurna.

Setelah sarapan dan membersihkan Pondok, perjalanan turun mereka dimulai. Para lutut menjadi SaHaBat saat perjalanan turun. Sangat Habis Dibabat. Tidak banyak yang diingat Kiskie dalam turunannya, kecuali bahwa dia bergantung sepenuhnya pada Sang Pemandu selama separuh perjalanannya. Jatuh bangun, berjalan dan berhenti sekejap.

Dalam tubuh manusia, terjadi proses fermentasi atau pembebasan energi, salah satunya adalah fermentasi asam laktat, disebut juga respirasi anaerob, proses ini terjadi di otot. Glukosa yang disimpan dalam otot, disebut Glikogen, mengalami proses glikolisis terurai membentuk asam piruvat dan energi dengan bantuan enzim. Kemudian dengan bantuan enzim piruvat dehidrogenase, terjadilah proses dehidrogenasi asam piruvat yang akan membentuk asam laktat dan energi. Penumpukan asam laktat di otot inilah yang menyebabkan rasa pegal di otot kaki. Benarkah teori itu? Wallahualam. Benar atau tidaknya teori itu, sayangnya, Kiskie tidak membawa obat penawarnya saat dia mengalami suffer itu. Lemas dan gemetar, kakinya tidak mampu menopang berdirinya. Tidak ada lagi cadangan glukosa dalam otot untuk pembentukan energinya. Yang menggerakkan kakinya hanya kesabaran kawan-kawannya, dan ketulusan Sang Pemandu. Hingga akhirnya sampai juga di ujung jalan keluar pintu rimba. Jalan aspal terbentang di sana, bagai pita hitam berkelok mulus. 26 Des siang, kaki-kaki sudah menapaki aspal lagi. Terlambat beberapa jam dari yang diharapkan, namun semua lega dan bersyukur.

Setiap orang berhak menilai apapun atau siapapun menurut timbangannya masing-masing. Tentu saja Kiskie tidak bisa menembus apa isi hati kawan-kawannya untuk melihat apa penilaian mereka, tapi dia membiarkan kawan-kawannya mengetahui penilaian hatinya, yaitu suatu apresiasi melebihi ucapan terima kasih. Baginya, inilah yang sebenarnya dia rasa.

Inilah sebenarnya manisnya daging buah salak itu.

Dianugerahi rekan-rekan yang mampu menghangatkan hati.

Di sini, di belantara ini, mereka semua menunjukkan kualitasnya :

yang tertinggi.


Salak I
25-26 Des 2008
Grateful to My Lord Almighty, Mas Budi, Mas Tri, Kak Mindo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar